Archive

Archive for August, 2007

Jangan Buat Batasanmu Sendiri

August 31, 2007 panghalusnya Leave a comment

Mengingat buku bacaan masa kecil, Kungfu Boy, karya Takeshi Maekawa

Chinmi adalah salah satu murid dari perguruan kungfu Kuil Dairin. Bisa dibilang kemampuan kungfu tangan kosong-nya sudah cukup bagus. Oleh karena itu, kali ini Chinmi diperkenalkan oleh Pak Tua kepada seorang guru ilmu kompo atau ilmu tongkat buta yang bernama Riki. Mulailah satu Chinmi berlatih di perguruan tongkat Riki.

Setelah cukup lama berlatih ilmu tongkat dengan murid Riki yang lain, Chinmi semakin terbiasa dan mahir dalam menggunakan tongkat. Dalam latihan tanding Chinmi mampu mengalahkan murid-murid Riki lainnya. Namun melawan Teiki yang berbadan jauh lebih besar, Chinmi benar-benar tidak berkutik. Riki pun menyuruh Chinmi bersemedi di kuil Furendo untuk mengetahui rahasia ilmu tongkat. Dan setelah badai besar yang terjadi pada hari ke tiga persemediannya, Chinmi mengetahui rahasia ilmu tongkat, yaitu filosofi pohon bambu.. Chinmi pun kembali ke perguruan dan meminta tanding ulang dengan Teiki. Dengan tidak terlalu sulit akhirnya Chinmi mampu mengalahkannya. Chinmi kemudian meminta tanding dengan gurunya, Riki. Namun kali ini Chinmi kalah, karena belum memahami keseluruhan filosofi pohon bambu. Chinmi pun akhirnya sadar, dan kali ini ia mampu menahan gerakan-gerakan dari Riki. Hari-hari berikutnya Chinmi benar-benar tak terkalahkan oleh murid-murid yang lain, Chinmi dapat menang dengan mudah ketika latihan tanding.

Hingga datang Guru Soshu dan muridnya Sie-Fan. Guru Soshu adalah guru dari Riki. Usia Sie-Fan sepantaran dengan Chinmi, namun perawakan tubuhnya jauh lebih kecil. Suatu malam Chinmi meminta ijin kepada Riki dan Guru Soshu untuk bertanding melawan Sie-Fan. Permintaanpun disetujui dan mereka berdua bertanding. Chinmi yang sangat percaya diri akan kemampuan tongkatnya, diluar perkiraanya, mampu dikalahkan dengan mudah oleh Sie-Fan dan sangat telak. Chinmi pun shock berat. Sakit disekujur tubuhnya masih tidak sebanding dengan sakit dihatinya. Dia yang merasa jauh lebih hebat ternyata dapat dikalahkan dengan sangat telak. Chinmi terus mengurung diri. Kemudian Guru Soshu menemui Chinmi dengan membawa sebuah kotak untuk diperlihatkan kepadanya. Kotak pun dibuka. Dan seekor kutu meloncat keluar, dengan loncatan kurang lebih setinggi kotak.

Guru Soshu berkata, “Kutu itu adalah kau.”

Dan kemudian Guru Soshu mengambil seekor kutu lagi dari tubuh Go Kong, kera peliharaan Chinmi, dan membiarkannya melompat. Kutu itupun melompat pergi. Namun kali ini loncatan kutu jauh lebih tinggi.

Guru Soshu pun berkata, “Dan kali ini kutu itu adalah Sie-Fan.”

Chinmi pun dengan spontan berkata, “Apakah maksud Guru Soshu bahwa kemampuan mereka jauh berbeda?”

“Tidak, kedua kutu itu adalah kutu yang sama, seharusnya loncatanya pun sama. Namun kenapa loncatan kedua kutu itu bisa jauh berbeda? Jikalau kau tahu jawabnya maka kau tidak akan dengan kalah telak seperti kemarin.” Guru Soshu menambahkan.

Setelah kejadian tak sengaja, Chinmi menemukan jawabannya. Ia pun menghadap Guru Soshu.

Chinmi pun berkata, “Guru Soshu, aku tahu jawabannya. Karena sekarang kedua kutu yang semula berbeda loncatannya itu, sekarang setelah dimasukkan kedalam kotak yang sama, loncatannya menjadi sama tingginya. Kutu tidak akan meloncat lebih tinggi dari tinggi kotak.”

Chinmi membuka kotak, kutu pun meloncat keluar. Dan memang benar kedua kutu itu kini memiliki tinggi loncatan yang sama.

Guru Soshu sambil tersenyum berkata, “Kau benar Chinmi, kutu-kutu itu tidak akan meloncat lebih tinggi dari kotak. Kenapa demikian? Padahal jika kutu itu mau dia bisa meloncat jauh lebih tinggi. Itu karena ketika dia mencoba meloncat tinggi, kutu itu terbentur tutup kotak. Dan akan terus begitu ketika kutu mencoba meloncat lebih tinggi dari tutup kotak. Oleh karena itu kutu itu akhirnya meloncat pada ketinggian dibawah ketinggian tutup kotak, sehingga dia tidak terbentur lagi.”

“Dan begitulah juga dirimu. Kau menganggap dirimu sudah hebat. Maka jadilah kau seperti yang sekarang. Kau tidak akan pernah bisa lebih hebat lagi dari sekarang, karena kau membuat batasanmu sendiri. Padahal diluar sana masih banyak yang jauh lebih hebat daripada dirimu. Jika kau buat batasan dirimu sendiri, berakhirlah kau.” Guru Soshu melanjutkan.

Cuplikan kisah diatas memberikan pelajaran bagaimana jika seseorang punya sifat takabur, maka orang tersebut bagaikan kutu yang terperangkap dalam kotak. Kutu yang akhirnya tidak dapat untuk meloncat tinggi walaupun sebenarnya dia mampu. Tanpa disadari memang pada saat seseorang mampu mendapatkan prestasi maka bibit penyakit takabur ini akan berusaha untuk merasuki. Misal jikalau seseorang mendapatkan juara 1 dikelas, maka jika terasuki penyakit takabur, ia akan merasa dirinyalah yang memang paling pandai. Tanpa sadar sebenarnya ia telah membuat batasan dirinya. Ia akan sibuk untuk berbangga diri, dan cukup malas untuk belajar lebih jauh karena merasa sudah pandai. Penyakit takabur benar-benar akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Disaat orang lain sibuk untuk terus memperbaiki diri, ia malah jalan ditempat. Seluruh potensi diri yang ia miliki malah ia tutup dengan sengaja. Jangan heran jika suatu saat orang yang takabur akan jatuh terpelosok. Bukankah mengerikan?

Selain manjakan imajinasi ternyata komik ini ada manfaatnya juga

Categories: Renungan Tags: ,

Apakah pi sama dengan 22/7 ?

August 23, 2007 panghalusnya 7 comments

Jawaban singkatnya adalah tidak sama.

22/7 = 3.142857 142857 142857 142857 142857 …

sedangkan

pi (π) = 3.14159 26535 89793 23846 26433 83279 50288 41971 69399 37510 …

dan jika dihitung nilai errornya adalah 0.00126448926734961868021375957764 …

Kemudian darimana nilai π itu dan mengapa saat kita sekolah dulu diajarkan menggunakan 22/7 untuk menggantikan π?

Sebelum menjawab itu, marilah kita menengok sejenak perjalanan π.

Jauh sebelum Masehi, orang-orang terdahulu sudah memikirkan cara untuk menemukan perhitungan nilai dari keliling sebuah lingkaran. Dan mereka mengetahui bahwa diameter dan keliling sebuah lingkaran memiliki perbandingan yang tetap. Namun berapakan nilai perbandingan itu, yang sekarang kita kenal dengan π, mereka belum tahu pasti. Disinalah mereka terus berusaha untuk mencari nilai yang tepat untuk nilai π ini.

Dari sejarah yang pernah tercatat, pada sekitar 1900 BC (sebelum Masehi) matematikawan Babilonia menemukan nilai π yaitu 25/8 (3,125). Dan beberapa tahun sesudahnya Ahmes, matematikawan asal Mesir menemukan nilai π yaitu 256/81 (3,16049). Dan ratusan tahun kemudian, masih tahun sebelum Masehi, matematikawan dari India menemukan nilai π yang lebih mendekati dari nilai π sekarang. Dan tahun-tahun berikutnya, dengan semakin berkembangkan ilmu hitung, semakin banyak matematikawan yang menemukan nilai π, yang jika kita lihat dari nilai π saat ini, memiliki tingkat error yang lebih kecil dengan jumlah angka dibelakan koma yang lebih banyak.

Archimedes (287-212 BC) dengan pendekatan poligonnya, dengan perhitungan matematis, menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa nilai π adalah lebih besar dari 223/71 dan lebih kecil dari 22/7 (223/71 < π < 22/7).

Dan setelah ditemukannya ilmu limit mendekati tak hingga, maka dengan definisi keliling lingkaran sama dengan keliling polygon dengan jumlah sisi yang tak hingga (karena lingkaran pada dasarnya adalah polygon dengan sisi tak hingga), maka π yang merupakan keliling dalam satu satuan panjang diameter dapat didefinisikan sebagai keliling dari polygon bersisi tak hingga dibagi dengan dua kali jari-jari polygon tersebut.

Dan dengan melakukan pendekatan melalui berbagai macam cara maka ditemukanlah nilai π yang sekarang kita ketahui ini. Dan orang terus berlomba-lomba untuk menemukan perhitungan tepat untuk mencari nilai π dengan jumlah decimal dibelakang koma yang semakin banyak. Inilah berbagai macam pendekatan untuk menghitung π secara computational.

Perlu diketahu bahwa untuk untuk menghitung keliling bumi dengan cukup akurat (ketelitian millimeter), 11 angka dibelakang koma untuk nilai π sudah mencukupi. Dan 39 angka dibelakang koma untuk nilai π sudah sangat akurat untuk menghitung ukuran dari atom hydrogen.

Pertanyaan untuk darimana nilai π sepertinya telah terjawab.

Dan mengapa pada saat sekolah dulu kita menggunakan nilai π atau juga 22/7, sepertinya adalah hanya untuk memudahkan guru-guru kita untuk mengajar kita. Dilihat dari nilai error yang 0,001, untuk perhitungan dalam ketelitian centimeter sepertinya error π masih dapat ditoleransi. Sehingga dengan bantuan pendekatan 22/7 (yang diambil mungkin dari pendekatan Archimedes) maka guru-guru kita pun dapat dengan mudah memberikan soal kepada kita dengan jari-jari atau diameter bilangan bulat (dan tentu saja berkelipatan 7).

disadur dari wikipedia.org

Categories: Matematika, Tahukah Anda Tags: , ,

Anak Yang Terus Berjuang

August 17, 2007 panghalusnya Leave a comment

Tubuhnya lengkap, selengkap tubuh anak normal lainnya, tidak kurang satu apapun. Inderanya dapat berfungsi dengan baik. Namun jiwanya entah dimana. Tubuhnya hadir namun jiwanya berada ditempat lain. Dia punya dunia sendiri, dunia yang berbeda dengan dunia kita. Dia akan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, meloncat kegirangan atau dia akan menjerit dan menangis histeris tanpa diketahui penyebabnya. Orang lain, selain dirinya, tidak akan pernah mengerti, karena itulah dunianya. Dunia yang hanya ada dalam pikirannya, dunia yang tidak pernah kita tahu seperti apa keadaanya. Hanya dari ekspresi-ekspresi tersebutlah orang dapat mengetahui kondisi hatinya. Kita dapat berinteraksi dengan tubuhnya namun sulit dengan jiwanya. Dimanakah sebenarnya jiwanya berada?

Pada suatu waktu, dia layaknya anak normal lainnya dengan tingkah laku yang wajar. Bermain dengan mainan ataupun menonton televisi dengan wajar. Namun diluar itu, hampir setiap waktunya dia akan berperilaku seperti orang yang menggila. Dia akan merusak segala sesuatu, menghambur-hampurkan barang, mencoret-coret tembok, berteriak, menangis, melompat-lompat, memukul diri sendiri. Dia berbicara layaknya orang gagap. Dia kesulitan untuk saling bertatap mata dengan seseorang. Bahkan diapun sudah mampu mengabaikan rasa sakit yang dideritanya.

Bukan, dia bukan gila. Karena sebenarnya dia memiliki otak yang cerdas. Dan dia juga bukan anak nakal. Dia adalah anak yang sedang dan senantiasa berjuang. Mungkin mudah bagi kita – manusia normal – pada saat kita menginginkan sesuatu dan tubuh kita meresponnya dengan baik. Ketika kita ingin mengambil sesuatu maka tangan kita akan dengan mudah bergerak. Ketika kita ingin melihat sesuatu maka mata kita juga dengan mudah fokus melihat. Ketika kita ingin berbicara maka dengan mudah seluruh sistem bicara kita untuk menghasilkan suara sesuai keinginan. Namun tidak dengan dia. Dia harus berusaha keras untuk itu. Ketika dia ingin memegang pensil, mungkin dia sudah memerintahkan jari-jarinya, namun jari-jarinya tidak bergerak sesuai keinginannya. Ketika dia ingin mengucapkan sesuatu, mungkin dia sudah memerintahkannya sistem wicaranya. Namun semua tidak bekerja sesuai keinginannya. Adakalanya dia akan marah, akan menangis, akan memukul dirinya sendiri, karena dia tak tahu harus bagaimana lagi. Hal itu sangatlah wajar, karena anak seperti dia harus melakukan tugas yang sangat berat hanya untuk mengendalikan tubuhnya. Dia juga akan melompat-lompat, berputar-putar tidak jelas,untuk menstimulasi dirinya. Dia benar-benar sedang berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk mengendalikan tubuhnya. Usaha yang tidaklah mudah.

Autisme, itulah istilah yang diberikan dokter untuk anak dengan jenis kelainan mental seperti ini. Hingga saat ini penyebab dan pengobatannya belum diketahui dengan pasti. Semua masih dalam proses riset. Dan yang paling mengerikan adalah menurut hasil penelitian laju pertumbuhan penyakit ini sudah sangat cepat. Diperkirakan dari 150 anak yang dilahirkan 1 diantara menderita autisme. Entah kenapa penyakit ini dapat berkembang dengan cepat. Mengingat autisme bukan penyakit menular, hal ini cukup mengherankan. Segalanya masih tidak jelas. Namun satu yang pasti. Anak autisme ada hanya untuk keluarga yang hebat. Orang tua yang hebat. Setiap hari mereka harus mengorbankan rasa lelah dan melawan kantuk untuk merawat dan mendidik sang anak. Sabar untuk terus berjuang mengembalikan jiwa sang anak. Menguras seluruh energi yang dimiliki hingga melebihi batas kewajaran. Tidak pernah lagi ada kata berlibur bagi mereka. Mereka juga harus mengorbakan harta mereka untuk membiayai pengobatan sang anak. Mereka juga harus mengorbankan rasa malu jikalau sang anak bertingkah mengacau ditengah masyarakat. Mereka juga harus mengorbankan rasa marah jikalau masyarakat menganggap sang anak adalah anak nakal yang tidak tahu sopan santun, atau masyarakat menganggap mereka adalah orang tua yang tidak becus mengajari anaknya. Mereka benar-benar orang yang sangat hebat karena harus melakukan semua ini. Saudara kandungpun, jikalau ada, juga termasuk orang yang hebat. Bagaimana dia harus bersabar ketika teman-teman sekolahnya menjadikan saudaranya bahan ejekan. Bagaimana dia harus menerima kenyataan bahwa perhatian orang tuanya kepadanya akan sedikit berkurang karena harus memperhatikan saudaranya. Bagaimana dia juga harus mengajaknya bermain kendatipun permainan itu tidak bakal menyenangkan layaknya dia bermain dengan teman sebayanya. Untuk ukuran seorang anak yang sedang tumbuh, dia juga adalah kakak atau adik yang hebat pula.

Anak-anak dengan autisme, dia mungkin tampak tidak indah, dia mungkin tampak tidak berharga, namun dia telah mencetak manusia-manusia mutiara untuk orang disekitarnya. Dia telah mencetak manusia dengan kadar sabar tingkat tinggi, kadar cinta benar-benar tulus, kadar ikhtiar dan tawakkal yang tidak dimiliki sembarang orang. Dia benar-benar telah mencetak manusia-manusia unggulan. Dan diapun sebenarnya adalah anak unggulan pula. Seorang anak yang terus berjuang.

Wherever you are, we always be with you.
Cepatlah kembali, Udin…

Categories: Kisah Tags: