Archive

Archive for November, 2007

Hope Theorem

November 29, 2007 panghalusnya Leave a comment

Setiap ada aksi tentu ada reaksi yang melawan dengan besar yang sama. “Every action has an equal and opposite reaction”. Kurang lebih begitulah inti dari postulat ketiga dari Hukum Newton. Yang guru Fisika kita memberikan contoh, kenapa kita dapat berdiri diatas lantai, alih-alih terperosok kedalam bumi, karena lantai memberikan gaya dengan besar yang sama kepada kita yang melawan gaya berat kita sehingga kita tidak jadi tertelan bumi. Atau kenapa anak-anak dapat bermain tarik tambang dengan gembira, alih-alih tambangnya langsung putus ketika ditarik, karena tali tambang melawan gaya tarikan anak-anak tersebut dengan gaya tegang tali sehingga pada batas tertentu tali tambang masih mampu mengimbangi kekuatan tarikan dua sisi dari anak-anak tersebut. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita pernah mendengar peribahasa ‘tak ada asap kalau tak ada api’ atau dengan tata bahasa dibalik ‘ada asap ada api’, yang guru bahasa kita mengajarkan bahwa peribahasa itu berarti bahwa tak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab, itupun intinya juga sama dengan postulat ketiga hukum Newton walaupun berbeda penerapan. Pada kasus ini penerapannya biasanya adalah hukum sebab akibat. Orang tidak akan celaka jika tidak ceroboh, dan seterusnya. Sedangkan hukum Newton memang diterapkan untuk menyelesaikan persoalan fisika dasar. Tapi bukankah aksi reaksi juga dapat diistilahkan sebagai sebab akibat.

Dan yang ingin saya bicarakan ini, sedikit berhubungan dengan teori tentang hukum aksi reaksi atau sebab akibat, adalah tentang teori sebuah harapan. Bisa dibilang semua kesedihan, kekecewan, kemarahan diakibatkan oleh harapan yang tidak terpenuhi. Karena harapan ibarat keinginan atau angan-angan yang ditancapkan dilangit yang ingin digapai. Semakin tinggi keinginan itu ditancapkan semakin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk menggapainya. Dan semakin tinggi pula kemungkinan jatuh jika tidak berhasil menggapainya. Ada dua jenis harapan. Yang pertama adalah harapan dari diri kita untuk diri kita sendiri. Ini tak lain tak bukan adalah keinginan atau cita-cita. Dan ini haruslah ada. Orang berkata harapanlah satu-satunya alasan seseorang untuk hidup. Harapan melihat orang yang dikasihinya bahagia, harapan untuk sukses, harapan untuk mendapatkan surga-Nya kelak, harapan untuk kembali kepada-Nya sebagai hamba-Nya yang patuh, dan seterusnya. Harapanlah yang menjadi bahan bakar seseorang untuk terus melaju. Harapan untuk hidup lebih nyamanlah yang membuat orang yang terpuruk terus berjuang untuk bangkit. Harapan untuk merdeka dan hidup damailah membuat sebuah negara terus bertahan memperjuangkan hak-haknya dari kaum penjajah. Namun yang harus disadari, sesuai teori diawal tadi, adalah semakin tinggi harapan yang dibuat semakin tinggi pula kekecewaan yang akan mendera jika gagal. Tapi justru salah besar jika itu malah membuat takut untuk menancapkan harapan setinggi langit. Harapan adalah cita-cita. Harapan adalah titik tuju. Semakin tinggi harapan semakin kuat usaha untuk mencapainya. Itu yang harus dilakukan. Namun jikalau belum berhasil memenuhi harapan, itu bukanlah gagal, karena paling buruk adalah kembali ketitik awal, namun paling tidak sudah beranjak. Dan itu hanya berarti belum berhasil. Gagal ada tetap ditempat tanpa usaha untuk berubah. Buanglah kekecewaan itu.

Kedua, adalah harapan dari orang lain untuk diri kita. Dan ini seharusnya tidak boleh ada. Harapan untuk dipuji, harapan untuk dihormati, harapan untuk dicintai dan seterusnya. Kenapa harapan semacam ini tidak boleh ada karena, pertama, orang yang ingin dipuji, dihormati, dicintai adalah orang yang merasa dirinya pantas untuk dipuji, dihormati, dicintai. Dan orang yang merasa pantas adalah orang yang takabur, orang yang sombong, dan itu salah satu penyakit hati. Bukankah penyakit adalah sesuatu yang buruk. Sombong adalah milik-Nya karena memang Dia-lah pemilik segalanya. Bukankah agama selalu mengajarkan demikian. Dan yang kedua, selain karena memberi jauh lebih mulia daripada menerima, namun ketika seseorang berharap suatu perlakuan dari orang lain, entah itu ingin dihormati ataupun yang lain, maka sebetulnya orang itu telah menebar bibit kekecewaan, kesedihan, kemarahan dalam dirinya. Ketika ingin dipuji, namun ternyata tidak ada pujian yang didapat, yang ada hanyalah kecewa. Ketika ingin dihormati tetapi yang terjadi justru tidak dihiraukan, hanya marahlah yang timbul. Jika bibit-bibit kecewa, sedih, marah tidak pernah ditanam, maka orang tersebut tetap tenang-tenang saja. Itulah mengapa seorang yang ditolak cintanya akan sedih bekepanjangan karena berharap orang yang dicintainya juga mencintai dirinya, namun ternyata tidak terwujud. Anda akan menuai apa yang anda tanam, hukum aksi reaksi lagi. Bukankah agama selalu mengajarkan untuk selalu bersikap tawaddu’ atau rendah diri dan juga mengajarkan untuk memberi jangan berharap menerima?

Categories: Renungan Tags: ,

Take a Chance, Take a Risk

November 21, 2007 panghalusnya Leave a comment

Ini adalah kisah Plato dan gurunya, Socrates, tentang cinta, yang mungkin sudah sering anda baca dalam berbagai macam versi.

Suatu hari Plato bertanya kepada gurunya, Socrates. Apa itu cinta ? Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya menjawab, ada ladang gandum yang luas di depan sana. Berjalanlah, tetapi jangan mundur kembali, kemudian ambillah satu buah ranting. Jika kau menemukan ranting yang kau anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta. Plato kemudian berjalan, tidak beberapa lama kemudian ia kembali dengan tangan kosong tanpa membawa apapun. Gurunya bertanya, mengapa kamu tidak membawa satu ranting pun? Plato menjawab, aku hanya boleh membawa satu saja dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik). Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tetapi aku tidak tau apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi ranting tersebut tidak ku ambil. Setelah aku melanjutkan perjalanan, baru aku sadar bahwa ranting-ranting yang kutemukan kemudian tidak sebagus ranting yang tadi, jadi akhirnya tak sebatang rantingpun yang kuambil. Guru menjawab, itulah yang dimaksud cinta.

Beberapa hari kemudian plato kembali bertanya kepada gurunya, apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya? Gurunya menjawab, ada hutan yang subur di depan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, tebanglah. Dengan begitu artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan. Plato kemudian berjalan dan tidak beberapa lama kemudian ia kembali dengan membawa sebuah pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja. Gurunya bertanya, mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu? Plato menjawab, berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah hampir menjelajah setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi pada kesempatan ini, aku lihat pohon ini dan kurasa tidak terlalu buruk. Jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya ke sini. Aku tidak mau kehilangan kesempatan untuk mendapatkannya. Gurunya menjawab, itulah yang dimaksud dengan perkawinan. Cinta itu semakin dicari, semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika kita dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan berlebihan akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan. Tak ada satupun yang didapat serta tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapar diputar undur. Terima cinta apa adanya.

Perkawinan adalah kelanjutan dari cinta. Perkawinan merupakan proses mendapatkan kesempatan. Ketika kau mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka kau akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya. Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia-sialah waktumu untuk mendapatkan perkawinan itu. Karena kesempurnaan itu hampa adanya.

(dikutip dari: http://enok3.wordpress.com/2007/01/03/what-is-love/)

Begitulah cinta kira-kira. Namun mari kita lihat dari sisi yang lain, yaitu bagaimana menentukan pilihan. Dari kisah diatas, bukanlah pohonnya yang terpenting, namun keberanian untuk memutuskan pohon mana yang ditebang lah yang paling penting. Kita bisa pulang tanpa membawa sebatangpun pohon atau kita membawa pulang sebatang pohon, meskipun itu bukan pohon terbaik, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan, dan masing-masing pilihan tentulah memiliki keuntungan dan resiko masing-masing., kita wajib mempertimbangkannya masak-masak. Kemudian tentu saja adalah keberanian kita untuk memutuskan pilihan mana yang dipilih. Namun yang perlu dicamkan adalah setiap pilihan memiliki untung dan rugi masing-masing. Sehingga setelah pilihan sudah ditentukan, kita harus menerima semua resikonya. Dan yang terpenting lagi adalah jikalau pilihan yang diambil berjalan tidak seperti yang dibayangkan, jangan pernah melihat kebelakang. Secara naluriah tentu saja ketika kita sudah memikirkan masak-masak, dan menentukan pilihan, dan ternyata ditengah jalan ternyata tidak sesuai harapan, biasanya terngiang dikepala kita, “seandainya saja saya pilih pilihan yang satunya”. Namun jalan hidup bukanlah ilmu eksakta yang jawabannya sudah pasti. Bukan berarti jika memilih pilihan yang lain akan berjalan lebih baik. Jangan pernah sedikitmu berkata, “Seandainya saja……” Kata-kata itu tidak akan berarti apa-apa. Dengan mengucapkan kata-kata itu tidak akan memberikan sedikitpun perubahan, hanya menimbulkan penyesalan. Dan penyesalan itupun belum tentu pada tempatnya, karena yang disesalipun sesuatu yang belum diketahuai bagaimana jalan cerita. Tataplah jalan kedepan, jika jalannya sudah sesuai tidak akan ada masalah. Namun jika jalannya tidak sesuai, terima dan benahilah, karena kita tidak akan pernah bisa berjalan mundur. Take a chance, take a risk.

Categories: Renungan Tags: ,

Expecto Patronum!

November 10, 2007 panghalusnya 1 comment

Termasuk salah satu penggemar Harry Potter kah anda? Yang jelas, saya iya. Betul sekali. Serial Harry Potter ini telah almarhum alias sudah berakhir. Jujur saja, sebagai salah satu penggemar berat, saya akan benar-benar merindukannya. Namun layaknya kehidupan, segala sesuatu harus ada akhir, jika tidak, segalanya justru tidak akan menyenangkan. Kali ini saya ingin mengajak anda belajar bersama mengusai dua buah mantra yang diajarkan kepada Harry dan teman-teman saat tingkat tiga dulu yang diajarkan oleh Prof. Lupin (baca buku: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban). ‘Riddicullus’ dan ‘Expecto patronum’ mantra patronus. Untuk mantra yang pertama sepertinya tidak pernah disebut lagi setelah itu. Sedangkan untuk mantra yang terakhir sangat sering muncul sesudahnya hingga buku terakhir.

Kita mulai untuk mantra yang pertama. Boggart, adalah hantu sihir yang dapat berubah wujud menjadi sesuatu apa saja yang sangat ditakuti oleh orang yang ada dihadapannya. Namun Boggart mempunyai kelemahan, yaitu dia sangat takut oleh suara tertawa. Dan mantra yang berbunyai ‘Riddicullus’ (ridiculous = konyol) ini cara kerjanya adalah merubah Boggart, yang telah berubah menjadi sesuatu yang kita takuti, menjadi sesuatu yang lain yang lucu sehingga menjadi bahan tertawaan. Sebelumnya diimajinasi kita, kita harus terlebih dahulu membayangkan akan kita rubah menjadi sesuatu yang lucu apa sebelum kita mengucapkan mantra ini. Semisal, dihadapan Parvati Patil, Boggart yang telah berubah menjadi ular kobra yang sangat besar dirubahnya menjadi badut yang memantul-mantul. Dihadapan Ron, Boggart yang telah berubah menjadi laba-laba raksasa diberinya sepatu roda pada masing-masing kaki delapannya, maka sekarang laba-laba itu sangat kelabakan menyeimbangkan dirinya. Atau dihadapan Neville, Boggart yang berubah menjadi Prof. Snape diubahnya menjadi Snape yang berpakaian nenek-nenek. Pada intinya adalah ubahlah ketakutan itu untuk menjadi sesuatu yang lucu hingga kita mungkin dapat tertawa terbahak-bahak. Bagaimana dengan kita para muggle (manusia biasa, bukan penyihir) yang tidak akan bisa menggunakan mantra ‘riddicullus’ ini? Intinya adalah mainkan imajinasimu, tidak perlu mantra. Bukan hanya ketakutan, namun kesedihan, putus asa, emosi, hingga strees, kita buat sesuatu yang lucu darinya. Buatlah diri kita tersenyum, bahkan hingga tertawa terbahak pun justru akan sangat baik. Tidak perlu menjadi seorang psikolog untuk mengetahui bahwa senyum dan tawa adalah obat yang sangat manjur untuk itu. Sepertinya semua perasaan, seperti halnya sedih, takut, stress, gembira, bahagia, tidak akan pernah ada kecuali kita mempersilahkannya. Kesulitan yang kita hadapi akan tetap sama. Namun dengan kesedihan, ketakutan, pikiran yang emosi, ataupun ketegangan hanya akan membuat jalan didepan menjadi gelap. Ada kemungkinan terperosok dan tersesat. Begitu pula sebaliknya. Jika kita hadapi dengan gembira maka jalan akan menjadi terang. Kita akan tahu dimana lubang dan dimana jalan yang benar. Dan kita pun tidak perlu berjalan dengan pelan-pelan sebagaimana dijalan yang gelap, kita bisa berlari, sambil menari, yang intinya adalah segalanya akan menjadi lebih mudah dan indah. Tidak percaya? Boleh dicoba, gratis.

Mantra kedua, adalah mantra patronus. Mantra ini berguna untuk mengusir Dementor. Apa itu dementor? Bagi Harry Potteries tentu sudah sangat paham. Namun bagi yang tidak akan saya deskripsikan. Dementor adalah makhluk sihir mengerikan yang mampu terbang melayang. Sosoknya hitam, seperti jubah dengan kerudung namun tidak ada orang didalamnya (karena memang kaki, tangan dan wajahnya tidak nampak). Dan suasana disekeliling Dementor berada seakan-akan mati dan layu. Karena Dementor ini memang mengambil semua kebahagiaan yang ada disekitarnya, sebagai makanannya. Jika Dementor mendekati seseorang, maka yang terasa hanya ada kesedihan dan semangat hidup yang melemah, karena perlahan-lahan kebahagiaan tersedot darinya. Dan bagi dunia sihir satu-satunya mantra untuk melawannya adalah mantra patronus. Tidak sembarang penyihir yang bisa, karena ini memang sihir tingkat tinggi. Butuh latihan dan kerja keras untuk dapat menguasainya. Teori simpel nya adalah ketika Dementor mendekati anda (dan perlahan-lahan menyedot kebahagiaan anda) bayangkan suatu hal yang paling membuat anda bahagia yang membuat anda ingin terus dan terus untuk bertahan hidup, dan kemudian ucapkan mantra “Expecto Patronum!”. Jika berhasil maka akan muncul cahaya putih pada tongkat sihir anda yang akan memukul mundur Dementor tersebut. Karena cahaya putih ini kebahagiaan anda yang cukup besar yang Dementor tidak akan sanggup menyedotnya. Itu dengan kasus anda adalah penyihir. Dan sekali lagi bagaimana dengan kita yang seorang muggle? Tidak diragukan lagi, kita mungkin pernah mengalaminya, atau bahkan sering, saat-saat dimana ketika kita menghadapi sebuah masalah hingga kita seperti kehilangan kebahagiaan, kehilangan semangat hidup, yang ada sepertinya hanyalah kesedihaan (jangan-jangan memang ada dementor disekitar kita ). Seperti halnya penguasaan mantra riddicullus dialam bukan sihir, matra patronus dialam bukan sihir juga kita harus kuasai dengan cara yang sama, mainkan imajinasimu, tidak perlu mantra. Seperti halnya penguasaan patronus, ini juga akan sangat susah, perlu latihan dan kerja keras. Karena bagaimana kita bisa membayangkan kebahagiaan ditengan kesedihan yang mendera kita. Namun susah bukan berarti tidak bisa kan. Kalau kita tidak ingin Dementor mengambil kebahagiaan kita, sepertinya kita juga harus menguasai ‘mantra patronus’. Tidak percaya? Sekali lagi, boleh dicoba, masih tetap gratis.

Categories: Renungan Tags: , ,