Archive

Archive for February, 2008

We are Superman

February 13, 2008 panghalusnya Leave a comment

Hampir setiap anak kecil menyukai film superhero. Bahkan tidak hanya anak kecil saja, sampai orang dewasa hingga tua pun menyukainya. Bisa dilihat ketika dibioskop menayangkan film-film superhero, akan sangat membludak, dan penontonya pun dari berbagai usia. Memang film semacam ini sangat memanjakan sisi fantasi kita. Dan jujur saja film-film superhero adalah salah satu film favorit saya. Seberapa banyak superhero yang anda tahu? Semakin bahagia masa kecil kita sepertinya semakin banyak yang kita tahu. Namun yang jelas superhero-superhero papan atas tidak mungkin anda tidak tahu. Seperti Spiderman, Batman, ataupun Superman.

Kadang saya coba berandai-andai, walaupun memang tokoh tersebut hanyalah rekaan, bagaimana seandainya saja superhero tersebut, katakanlah Superman, adalah bukan orang baik. Dia adalah manusia super yang besar dilingkungan manusia normal. Kuat, bisa terbang, punya penglihatan penembus dan penghancur, telinga super, semuanya super. Bagaimana seandainya dia tidak memiliki jiwa yang baik seperti di film. Toh seandainya dia ingin berbuat seenaknya tidak akan ada yang mampu melawannya. Paling tidak dia tidak perlu menjadi Clark Kent yang harus bersusah payah mencari uang sebagai wartawan. Merampok bank pun yang lain tidak akan berkutik. Bagaimana seandainya Superman sejahat itu? Jawaban yang jelas adalah, film nya tidak akan laku. Tapi bukan itu maksud saya. Mungkin akal lebih jelas jika kita melihat jejak Peter Parker, nama Spiderman ketika tidak berkostum, mencari jati dirinya. Setelah ‘dikaruniai’ kemampuan laba-laba, Peter sedikit lepas kendali. Sebagaimana anak muda yang diberi kelebihan, dia benar-benar ‘memanfaatkan’ kemampuan itu. Bahkan dia mampu meraup uang yang banyak setelah memenangkan kompetisi duel seandainya saja uang itu tidak dicuri. Namun setelah sang kakek meninggal dunia akibat dari kejadian yang tidak terduga, dan teringat akan pesan yang ditinggalkan sang kakek, Peter menyadari hal penting bahwa ‘IN GREAT POWER LIES GREAT RESPONSIBILITY’. Kelebihan yang diberikan padanya berarti bahwa ada tanggung jawab dibaliknya. Semakin besar kelebihan itu, semakin besar pula tanggung jawabnya.

Kita, dengan peran kita masing-masing dalam kehidupan ini adalah spiderman atau superman atau dengan kata lain adalah superhero bagi kehidupan disekitar kita. Polisi dengan kekuatannya untuk mengatur, hakim dengan kekuatannya untuk memutuskan, ataupun dokter sebagai perpanjangan tangan Tuhan dengan kekuatannya untuk menyembuhkan. Apapun profesi kita, ada tanggung jawab sosial dibalik itu. Jangan kita salah gunakan kelebihan itu. Jangan hanya karena suatu hal kita tidak mau bertindak padahal ada panggilan akan kewajiban itu disekitar itu. Suatu hal itu bisa apa saja, dan salah satu yang paling mungkin adalah uang. Uang memang penting, namun jangan jadikan uang sebagai segala-galanya. Karena itu hanya akan merusak jiwa kita. Apalah jadinya jika Superman tidak mau menolong jika tidak dibayar? Jika kita benar-benar telah menjadi Peter Parker yang sadar, maka tidak akan ada lagi polisi yang membela sesuatu hanya karena uang, polisi yang tidak mau menindak seseorang karena jabatannya tinggi, hakim yang membelokkan keadilan hanya karena uang, dokter yang mengusir pasiennya hanya karena tidak memiliki uang, dokter yang berharap banyak yang sakit hanya agar mendapat pasien sehingga menambah pemasukan, dan juga untuk profesi-profesi yang lain. Jadilah Superman untuk sekitar kita. Semoga dunia ini menjadi lebih indah dengan hadirnya superman-superman baru.

untuk kakak-kakakku, semoga kalian juga benar-benar telah menjadi superman :)

Bagaimana kita menilai sesuatu

February 1, 2008 panghalusnya Leave a comment

Guru IPS kita mengajarkan bahwa pada jaman dahulu sistem jual beli menggunakan sistem barter, yaitu membeli sesuatu dengan menukarkan barang yang dianggap sepadan, atau paling tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Sistem ini dipakai karena memang pada jaman tersebut belum memiliki nilai tukar yang jelas. Dan kemudian diciptakanlah mata uang , yang bertujuan agar suatu benda memiliki nilai tukar yang jelas yang dipakai merata oleh masyarakat. Sehingga setelah adanya mata uang tersebut kita dalam menentukan nilai atau harga suatu barang lebih mudah. Sandal ini harga berapa, topi ini harga berapa, baju ini harga berapa, sudah sangat jelas (dan yang paling jelas barang kita tidak bertambah hanya karena kita ingin menjual sesuatu seperti halnya pada proses barter).

Namun, meskipun sekarang suatu benda sudah mempunyai nilai yang jelas, tingkat kepuasan tetaplah berbeda. Contoh mudahnya adalah, semisal didompet kita ada uang 100 ribu dan juga terselip satu lembar 5 ribu. Bagaimana perasaan anda terhadap uang 5 ribu ini. Apakah masih terasa sangat bernilai? Kemudian coba berikan 5 ribu ini kepada pengemis yang ada diperempatan jalan didekat rumah anda. Menurut anda bagaimana perasaannya? Saya bisa membayangkan, pengemis yang biasanya menerima uang recehan dan sekarang menerima satu lembar 5 ribu dari anda tadi akan sangat gembira. Nilai uang tidak pernah berubah, tetap uang dengan 5 ribu rupiah. Namun tingkat kepuasan dan kenikmatannya berbeda. Contoh yang lain. Jika anda pernah mengalami atau paling tidak mengetahui kehidupan mahasiswa perantauan dengan uang saku yang pas-pasan. Untuk membeli makan sehari-hari mereka harus benar-benar pehitungan, jika tidak ingin akhir bulan mati kelaparan. Mencari warung dengan harga yang sangat terjangkau dan lauk yang dipilihpun harus yang biasa-biasa saja. Dan suatu saat mahasiswa ini ditraktir temannya makan ikan bakar. Bisa dibayangkan bagaimana rasa ikan bakar ini dilidah mahasiswa tersebut. Menurut saya rasanya akan sangat luar biasa nikmatnya. Dan coba dibandingkan dengan orang yang mungkin cukup mampu untuk makan ikan bakar setiap minggu sekali. Rasanya mungkin tidak akan senikmat mahasiswa itu tadi. Sama ikan bakarnya namun kenikmatannya berbeda.

Pesan moralnya adalah, walalupun kita hidup dalam kekurangan, kita tidak perlu bersedih. Bahkan kita seharusnya senang. Karena Allah memberikan banyak peluang pada kita untuk menyantap kenikmatan yang bermacam-macam. Semakin kita kaya atau mampu, maka peluang kenikmatan itu akan diambil sedikit demi sedikit dari kita. Seorang kakak pernah berkata kepada saya, “Sekarang kita sudah kehilangan kenikmatan uang lima ratus rupiah. Lihatlah pengemis-pengemis itu, mereka diberi kenikmatan hanya dengan menerima uang lima ratus.” Bisa anda bayangkan seorang Bill Gates, yang katanya adalah orang terkaya didunia, seberapa banyak kenikmatan yang diambil darinya. Dia bisa membeli mobil sebanyak apapun, rumah semewah apapun, makanan selezat apapun, tapi kenikmatannya akan sangat sangat jauh berbeda dibandingkan kita jika kita seandainya punya mobil (walaupun cukup satu) dan.rumah (walaupun tidak mewah). Bukankan kenikmatan adalah hal yang terpenting? Walaupun tidak banyak yang kita miliki namun kita masih cukup kaya dengan bagaimana kita menilai sesuatu itu dengan hati kita. Tetaplah tersenyum, kawan!

Categories: Renungan Tags: ,