Archive

Archive for March, 2008

Beloved Sister

March 30, 2008 panghalusnya Leave a comment

Si kecil benar-benar gembira. Diluar rumah ia bisa bermain-main bersama teman sebayanya, berlari-larian, bermain petak umpet, bermain disawah, dan permainan anak kecil lainnya. Dan dirumah ia masih memiliki teman bermain, teman untuk berbagi cerita, teman untuk diajak bercanda tawa yaitu sang kakak. Si kecil benar-benar merasa dekat dengan sang kakak. Ketika sang kakak pergi, atau belum pulang sekolah, rumah terasa sangat sepi, terasa ada yang kurang. Banyak permainan yang kakak beradik ini lakukan. Mereka berdua membuat uang-uangan dari kertas menyerupai uang logam, digambar dengan indah dan digunting dengan rapi untuk kemudian mereka akan berusaha menjualnya disekolah. Bukan untuk mencari uang, karena memang tidak bakal laku, namun hanya untuk senang-senang. Dan ketika diluar dugaan ‘barang dagangannya’ laku, mereka akan sangat gembira, tertawa riang bersama. Setiap Minggu pagi, mereka akan duduk manis didepan televisi, tidak akan mau ketinggalan acara favorit mereka, Doraemon. Dan mereka dengan kurang kerjaannya akan mencatat setiap judul, yang mencantumkan nama alat Doraemon yang keluar dari kantong ajaibnya. Sang kakak akan mencatat dan menyimpan catatan itu dengan rapi untuk dilihat lagi minggu depannya. Mereka tersenyum riang kala melihat catatannya sudah cukup banyak. Mereka berdua memiliki katalog untuk nama alat yang dimiliki Doraemon. Pada masa itu, disetiap snack yang dijual akan memberikan hadiah untuk menarik minat anak-anak agar membeli, entah itu sticker, penghapus berbagai bentuk, dan lain-lain. Sang kakak, yang memiliki hobi mengumpulkan sesuatu, akan mengumpulkan hadiah-hadiah yang didapatnya. Dan si kecil juga akan memberikan hadiahnya kepada sang kakak untuk memperlengkap koleksi sang kakak. Dan setiap saat mereka akan melihat lagi koleksi tersebut dengan gembira. Puas rasanya jikalau koleksi tersebut sangat lengkap. Namun terkadang sang adik juga tidak mau kalah dan ingin memiliki koleksi juga. Maka bersainglah mereka berdua. Mereka berdua senang sekali bermain air dikamar mandi. Mencoba berenang dibak mandi yang kecil. Saling siram satu sama lain. Walaupun setelah itu sang ibu akan marah besar karena telah menghabiskan air banyak, dan juga karena mereka adalah laki-laki dan perempuan tidak seharusnya dikamar mandi bersama, namun yang mereka tahu hanya bersenang-senang.

Waktu terus bergulir. Sang kakak sudah tidak anak-anak lagi. Mengingat usia mereka terpaut tiga tahun, si kecil masih dalam masa kanak-kananya. Namun si kecil masih senang bermain dengan kakaknya. Sang kakak tetap akan dengan setia melayani permainan si kecil, walaupun sekarang sang kakak sudah duduk dibangku SMP. Sang kakak tetap dengan setia mendengarkan cerita-cerita dari sang adik. Walaupun mungkin cerita si kecil tidak cukup menarik namun sang kakak akan berusaha tersenyum dan tertawa menemani tawa sang adik. Suatu ketika sang adik tanpa sengaja memecahkan lampu. Memiliki figur seorang ayah yang tegas cukup membuat takut sang adik untuk mengaku. Sang kakak berkata kepada sang adik ‘biar kakak yang akan mengaku bahwa kakaklah yang memecahkan lampu itu’. Sang adik merasa lega. Sang kakak benar-benar bagai seorang pahlawan baginya.

Si kecil tumbuh remaja. Namun jiwa kekanakannya masih belum mau beralih dari tubuhnya. Sang kakak masih dengan setia menemaninya. Ada dikala sang adik butuh teman. Ada dikala sang adik tidak berani mengatasi suatu masalah. Menjadi penolong ketika sang adik ketakutan. Sang kakak selalu ada. Si kecil masih ingat ketika sang kakak bersusah payah mencarikan guru tari sebagai solusi sang adik yang putus asa karena tidak punya keahlian untuk ditampilkan pada waktu lomba. Si kecil masih ingat ketika sang kakak disela-sela tugas kuliah yang padat merawatnya dengan sangat baik ketika sedang sakit. Banyak hal yang tidak bisa sang adik lakukan tanpa bantuan sang kakak. Sang kakak benar-benar menjadi sahabat sejati sang adik.

Mereka sudah dewasa sekarang. Mereka sudah memiliki kehidupan masing-masing. Sang kakak masih dengan setia menyemangi setiap langkah sang adik. Si kecil yang tumbuh dewasa benar-benar akan merindukan masa kanak-kanak mereka. Si kecil akan terus berdoa agar sang kakak diberikan kebahagian sebesar kebahagian yang telah diberikan sang kakak kepadanya selama ini.

Semoga lekas sembuh kakakku, I love you forever…

Categories: Kisah Tags:

Negeri di awan

March 12, 2008 panghalusnya 1 comment

Disinilah jiwaku berada
Jauh dari keramaian kota
Carut marut dunia tidaklah terasa
Karena tempat ini layaknya surga
Tempat aku seharusnya ada
Menikmati hidupku yang tidaklah lama

Aroma pepohonan yang kental terasa
Bisikan angin gunung yang sangat mesra
Gemericik air yang membangkitkan nada
Embun pagi yang tak lupa menyapa
Akan menjadi teman perjalananku yang setia
Menikmati indahnya alam raya

Jikalau malam telah tiba
Bintang berkilauan layaknya mutiara
Bagaikan lukisan sang maha Kuasa
Menerangi segenap relung jiwa
Kuterbuai dengan pemandangan yang ada
Yang membuatku serasa terbang diangkasa

Menembus ganasnya hutan belantara
Kucari kedamaian dalam indahnya dunia
Melawan segenap asa dalam jiwa
Kugapai harapan penuh makna
Menuju titik tempat impian berada
Kemegahan atap langit dunia

Paru-paru semakin keras berkerja
Karena udara tak lagi sebanyak biasa
Keringat meluncur dengan ganasnya
Tenaga pun tinggal sedikit tersisa
Hanya semangat yang terus menggelora
Menjaga harapan agar tak sirna

Beban dipundak tak akan terasa
Segala penat hilang seketika
Melihat perjuanganku tak sia-sia
Tatkala kusampai dipuncak dunia
Dan ufuk timur pun merah merona
Pertanda mentari mulai terjaga

Tak ada kata yang mampu melukiskan
Keindahan alam yang tiada nian
Kupanjatkan doa padamu Tuhan
Berikanlah aku sejuta kesempatan
Untuk terus merasakan kenikmatan
Berada di negeri diatas awan