Archive

Archive for April, 2008

Humble

April 24, 2008 panghalusnya Leave a comment

Ahmadinejad, Presiden Iran, memang terkenal ketika beliau berani menentang negara (sok) kuasa Amerika mengenai pengadaan nuklir dinegaranya. Melihat dan membaca berita-berita tentang beliau di televisi maupun koran tentang keberaniannya, saya benar-benar salut. Saya rindu melihat pemimpin yang tegas seperti beliau. Pemimpin yang punya pendirian, harga diri, yang tidak mau tunduk dengan negara yang ‘zholim’. Walaupun sejak saat itu saya mengagumi beliau namun hanya sebatas itu yang saya tahu. Saya tidak pernah tahu tentang kehidupan beliau. Hingga dimilis saya ada sebuah email kiriman dari teman (hasil forward-an juga) yaitu yang pertama subyeknya: The Life of Two President. Yang memperlihatkan gambar/foto yang membandingkan antara Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad dengan Presiden Pakistan, Parveez Musharaf.

The President of Iran – The President of Pakistan

Kemudian dimilis yang sama juga ada kiriman lagi tentang Ahmadinejad, dengan subyek: Presiden Iran sederhana sekali.. Dan karena penasaran, hasil dari browsing ketemu lah blog yang isinya kurang lebih sama. Bisa dilihat disini. Dan setelah membaca blog tersebut, saya semakin dan semakin terkagum-kagum. Jika dalam masa pemerintahan Rosululloh SAW dan kekhalifan, rasanya masih wajar kita menemui pemimpin yang benar-benar sederhana dan dapat menjadi teladan. Namun jika pada zaman sekarang, zaman yang mungkin semakin rusak ini, masih ada pemimpin yang seperti itu … rasanya sulit untuk berkata-kata. Subhanalloh… Bapak Mahmoud Ahmadinejad doaku tercurah untuk kesejahteraan anda.

Dan karena ingin mengetahui lebih jauh lagi, saat ini saya sedang mencari buku lama, hasil dari browsing juga dengan judul Ahmadinejad! David ditengah angkara Goliath dunia. Dan juga buku Ahmadinejad: The nuclear savior of Tehran.

Categories: Kisah Tags: ,

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 3 (go home)

Hampir semua pendaki yang ingin turun dari Dusun Bambangan akan mencarter mobil untuk langsung menuju terminal ataupun stasiun Purwokerto. Dengan pertimbangan harga tidak akan jauh berbeda dengan jika turun dipertigaan Serayu dan naik bis lagi. Apalagi jika hari sudah sore, maka memang hanya itulah pilihan satu-satunya. Karena bis Purwokerto – Pemalang dan sebaliknya, terakhir pukul 5 sore.

mobil-bak.jpgMobil disini adalah mobil pick up dengan diberi terpal diatasnya. Kami berempat bergabung dengan rombongan lainnya, sehingga sekitar 8 orang, sehingga total 12 orang. Dua orang duduk didepan karena mereka adalah cewek. Walaupun posisi dibelangkang yang kurang nyaman, namun karena kelelahnya kamipun tetap dapat tidur dengan nyenyak. Dengan sesekali pada saat terbangun melihat sudah sampai manakan ini.

Kurang lebih dua jam, karena kecepatan mobil juga santai, kami tiba diterminal Purwokerto. Para rombongan Jakarta langsung menyerbu loket bis yang ternyata masih banyak tempat duduk yang tersisa. Mengingat ini masih hari Sabtu maka keadaan arus balik belum begitu terasa. Kami pun berpisah disini. Saya ditemani seorang teman saya yang ingin mudik ke Jember, menyempatkan sholat Maghrib dan Isya terlebih dahulu sebelum mencari bis jurusan Surabaya.

Setelah mendapatkan bis yang cukup nyaman, AC ekonomi, kamipun mengatur posisi tidur masing-masing. Rasanya mata sudah tak tertahankan lagi. Dengan ditemani alunan musik yang keluar dari speaker bis, kami pun terlelap, tak sabar untuk merasakan empuknya kasur lagi. Surabaya, I’m coming!

Dusun Bambangan – Terminal Purwokerto
# Carter (mobil bak terbuka) : Rp 15.000,- / orang (harga tergantung kondisi)
# Waktu : 2 jam
Purwokerto – Surabaya
# Bis mandala (jur. Bandung – Surabaya) : Rp. 65.000,-
# Waktu :11 jam

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 2 (pendakian)

April 3, 2008 panghalusnya 9 comments

Jumat, 21 Maret 2008, 06:00

Di dusun Bambangan ini sebenarnya terdapat base camp resmi pendakian yang terletak di akhir dari jalan aspal sebelah kanan jalan menjelang masuk gapura pendakian, namun kebanyakan pendaki sepertinya lebih menyukai untuk ber-base camp dirumah ibu Muheri, yang sudah dijadikan base camp oleh para pendaki sejak dahulu. Selain hangatnya karpet masih bisa kita rasakan disini, yang membuat kita serasa dirumah, keramahtamahan seluruh keluarga pemilik rumah membuat kita serasa menjadi tamu agung. Pemilik rumah terus menyuguhkan air hangat untuk para pendaki dan menyambut dengan senyumnya yang ramah ketika ada pendaki yang baru sampai.

Jika perut terasa lapar, atau jika ingin mengisi energi menjelang pendakian, kita juga bisa memesan makanan kepada pemilik rumah. Nasi hangat, sayur dan telur atau ayam benar-benar menggugah selera, mengingat setelah ini harus makan ala kadarnya ketika sudah berada dihutan. Ditoko Ibu Muheri juga menyediakan beberapa kebutuhan untuk kebutuhan pendakian, seperti air mineral, mie, sarung tangan, kerpus, dll. Dan yang paling menarik adalah disini juga menjual gantungan kunci, stiker, emblem, kaos (jika persedian ada) yang menggambarkan tentang pendakian Slamet yang bisa kita buat untuk kenang-kenangan. Saya pun sudah berencana akan memborongnya nanti ketika sudah turun gunung. Dan jangan lupa untuk melakukan proses registrasi pendakian, dengan menulis nama dan keterangan lainnya dan membayar Rp. 3.500 per orang.

slamet-from-bambangan.jpgSetelah tidur malam cukup pulas, dan perut pun sudah terisi penuh, rombongan saya siap untuk memulai pendakian. Hari cukup cerah. Dan dari luar rumah, puncak Slamet yang berwarna merah akibat tersinari mentari pagi berdiri gagah serasa memanggil kami, yang membuat kaki tak sabar untuk melangkah lagi. Sebelum pendakian teman saya mencatat nomer telepon base camp terlebih dahulu, sebagai jaga-jaga seandainya saja nanti digunung kami memerlukan bantuan. Dan dijaman seperti sekarang, tidak usah khawatir, walaupun lemah dan hilang timbul, namun sampai puncak pun sinyal masih dapat kita nikmati. Bismillah, tepat pada pukul 7.30 rombongan kami berangkat memulai pendakian. Pendakian Slamet melalui jalur Bambangan ini, saya menyebutnya adalah jalur ‘to the point’. Kita tidak perlu naik turun bukit. Kita akan dihadapkan langsung dengan kaki gunung Slamet, yang itu berarti jalur akan terus menanjak dan trek bonus bisa dikatakan sangat jarang sekali. Dan sepanjang pendakian puncak Slamet akan terus tampak didepan mata, kecuali jika berada didalam hutan.

gerbang.jpgSepuluh menit pertama kami berjalan menyusuri jalan berasal yang berada diantara rumah-rumah warga hingga tiba digapura pendakian. Gapura pendakian ini berada dipenghabisan jalan beraspal. Setelah memasuki gapura, jalan akan bercabang. Ambil jalan yang kekanan. Jalan yang kekiri adalah jalan menuju ladang penduduk. Kami terus berjalan menyusuri ladang penduduk dengan sungai yang mengalir cukup deras berada disebelah kiri jalur pendakian. Sekitar 15 menit kemudian terdapat papan keterangan milik Perhutani dan dibawahnya terdapat bak sampah besar, itu berarti kami telah tiba di shelter lapangan. Disebut shelter lapangan karena dibelakang bak sampah tersebut terhampar lapangan rumput yang cukup luas, yang jika anda kurang kerjaan bisa menyempatkan bermain sepak bola terlebih dahulu. Disudut lain juga tampak air terjun kecil yang cukup indah. Dan sepertinya shelter lapangan ini tidak begitu istimewa, tapi ternyata – dari istilah buku komik detektif – memainkan trik psikologis yang cukup indah. Yang membuat pendaki yang baru pertama kali mendaki gunung Slamet lewat jalur Bambangan seperti kami ini, menghabiskan 2 jam mondar-mandir ketika turun gunung nanti. Tapi tenang, seperti kata saya tadi ini hanya permainan psikologis, tidak terlalu berbahaya.

sketsa.jpgIni adalah denah jalur sederhana yang bisa saya buat. Denah ini saya buat berdasarkan kesimpulan saya. Dan jika ada yang hendak mengoreksi, monggo silakan. Sudah menjadi naluri, apalagi untuk pendakian pertama, pendaki akan mengambil jalan yang paling masuk akal jika terdapat percabangan. Masuk akal disini bisa mengambil jalan yang menanjak, atau jalan yang paling sering dilalui, atau jalan yang setipe dengan jalan yang sebelumnya, dan lain-lain. Apalagi jika percabangannnya tidak tampak, maka dengan santai kita akan melangkah terus. Nah, ketika kami melewati shelter lapangan ini, jelas kami dengan santai melangkah terus melewati jalur II, karena memang tidak tampak percabangan didaerah ini, lagipula jalan setapaknya sangat jelas berbelok mengarah ke jalur II. Dan memang seakan-akan tidak ada yang terjadi karena jalur ini memang mengarah kearah yang benar, yaitu jalur menuju puncak. Permasalahannya muncul ketika nanti kami turun gunung. Ketika turun gunung, pendaki akan digiring ke jalur I, karena meskipun tampak percabangan namun jalur dari atas menyatu dengan jalur yang berbelok ke jalur I. Untuk yang menuju jalur II, tampak seperti jalur yang lebih jarang dilalui. Kebingungan mulai muncul ketika jalur ini tepat menyatu dengan pinggiran sungai. Padahal kami yakin sekali pada saat naik tidak pernah melalui jalur ini. Inilah yang membuat kami naik turun tidak karuan untuk mencari jalur yang benar. Dan jikalau tidak bertemu dengan pendaki yang sudah paham betul jalur ini, maka bisa sampai malam kami mondar-mandir. Percabangan disisi atas inilah yang disebut pos Payung. Karena sebelumnya disini terdapat shelter berbentuk payung. Namun pada saat sekarang sudah tidak ada lagi, entah digerus oleh alam atau ada pihak yang tidak bertanggung jawab mengambilnya. Dan menurut orang yang sudah berpengalam di jalur ini, jalur I adalah jalur yang jauh lebih pendek dibanding jalur II, jalur II lebih memutar, dan lintasannya pun relatif lebih tidak licin. Jadi, mau pilih yang mana, terserah saja. Anehnya, sepertinya masih ada satu jalur lagi, karena ketika saya turun lewat jalur II saya merasa ada bagian yang hilang, karena pada saat naik lewat jalur II kami mendapati pondok ladang warga yang pada saat turun kami tidak mendapatinya. Tapi saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak, dan kalaupun benar dimanakah percabangannnya saya juga tidak tahu. Tapi tenang saja, sepertinya semua jalur tetap menuju tujuan yang tepat. Seperti pepatah, banyak jalan menuju puncak J

Kembali ke perjalanan menuju puncak. Selepas Pos Payung ini jalan terus menanjak dan masih terbuka lebar. Dengan terkadang masih didapati ladang penduduk dikanan kiri jalur. Setengah jam berlalu akhirnya ‘peradaban’ mulai berganti, kami mulai memasuki hutan tropis. Seperti biasa, perjalanan didalam hutan tropis ini cukup rindang dengan aroma pepohanan yang khas. Pohon-pohon besar berdiri kokoh terbentang disepanjang perjalanan. Menurut literatur yang kami baca, sekitar 2 jam perjalanan setelah Pos Payung seharusnya kami akan mendapati pos II, Pondok Walang. Namun entah karena tidak ada plakat atau ada plakat namun kami tidak melihatnya, 2 jam berlalu tanpa tahu kami sudah melewati pos 2 atau belum. Nama Pondok Walang diambil dari bentuk cabang pohon yang ada di tempat itu yang menyerupai bentuk belalang. Namun menurut beberapa pendapat lain nama Pondok Walang diambil karena ditempat ini terdapat pohon yang penduduk setempak menamainya Pohon Walang. Dipondok Walang ini sudah tidak terdapat lagi pondok yang katanya sudah hancur, sehingga tanpa plakat kami yang baru pertama kali mendaki Slamet ini tidak akan pernah tahu letaknya.

pintu-gerbang-u.jpgTidak berapa lama kemudian, kami tiba di akar-akaran dua batang pohon yang setinggi satu meter lebih, yang orang-orang menyebutnya adalah ‘pintu gerbang’. Dahulu mungkin untuk berjalan terus pendaki harus memanjat akar pohon ini. Namun sekarang disamping pohon ini sudah terdapat jalan, sehingga pendaki tidak perlu memanjat lagi. Karena saya ingin mendapatkan kesan, maka walaupun lebih susah, saya merelakan diri untuk memanjat pohon ini. Dengan sampainya kami dipintu gerbang ini maka itu berarti kami telah melewati pos II tanpa kami sadari. Karena letak ‘pintu gerbang’ ini diantara pos II dan pos III.

pondok-cemara.jpgSekitar setengah jam kemudian kami tiba di pos III, Pondok Cemara. Jangan tertipu dengan kata-kata pondok dan cemara. Karena ditempat ini tidak ada pondok dan juga tidak ada cemaranya. Di pos III ini ada plakatnya, sehingga kami tahu. Kami sempatkan berfoto sebentar. Kemudian kami langsung tancap gas melanjutkan perjalanan. Dan kurang lebih setengah jam kami tiba di pos IV, Samyang Samarantu. Plakat pos IV ini terletak dibatang pohon yang melintang. Dan menurut penduduk setempak tempat ini baru saja terbakar. Pantas saja pohon-pohon di pos ini menghitam.

pondok-rangkah.jpgDengan tibanya kami di pos IV maka tidak berapa lama lagi, sekitar setengah jam, dengan meneruskan perjalanan maka kami akan tiba ditempat paling favorit untuk camp, yaitu Pos V, Samyang Rangkah. Kenapa favorit, karena tempat ini dekat dengan mata air. Di pos V ini terdapat pondok yang cukup luas, yang sanggup menampung puluhan orang. Dan karena kami cukup malas untuk membuka tenda, maka kami putuskan untuk bermalam didalam pondok. Sebenarnya pada awalnya kami berniat untuk camp ditempat yang lebih tinggi untuk meminimalisasi waktu untuk summit attack. Di Samyang Rangkah ini awalnya kami hanya berniat untuk masak-masak untuk makan saja. Namun karena tidak berapa lama setelah kami tiba di pos ini hujan lebat turun, maka memang lebih bijaksana untuk camp ditempat ini saja, dengan konsekwensi bangun lebih pagi untuk menuju puncak.

Setelah tidur tidak begitu pulas karena harus berdesak-desak dengan puluhan pendaki lainnya dan setelah makan cukup kenyang, tepat pukul 2.15 dini hari kami berangkat untuk menggapai sunrise dipuncak. Kami spare waktu cukup banyak dengan pertimbangan lebih baik kedinginan dipuncak daripada telat melihat sunrise. Maklum kami, terutama saya, terobsesi sekali dengan sunrise dipuncak. Tas kami tinggal didalam pondok. Kami hanya membawa makanan dan minuman secukupnya, serta mantel untuk berjaga-jaga jikalau hujan turun lagi.

Selepas pos V ini, tanjakan lebih kejam lagi. Tak terbayang jikalau kami harus membawa tas carrier kami. Namun bulan purnama yang cukup indah menemani perjalanan kami, membuat kami hanya terkadang menyalakan senter kami. Empat puluh lima menit kemudian kami tiba di pos VI, Samyang Jampang.

Dua puluh menit dari pos VI kami tiba dipos VII, Samyang Ketebonan. Di pos ini terdapat pondok seluas dan semirip dengan pondok yang ada di pos V. Pendaki yang ingin meminimalisasi waktu untuk menuju puncak biasanya camp ditempat ini.

Perjalanan kami teruskan hingga melewati Pos VII, Samyang Kendit dan terus hingga Plawangan. Kami tiba di plawangan sekitar pukul 4. Seperti gunung-gunung yang lain, plawangan berarti batas vegetasi. Diatas plawangan sudah tidak terdapat pepohonan lagi.

downhill2.jpgTrek selanjutnya adalah trek kerikil. Daerah ini disebut kawasan batu merah. Karena memang jikalau hari sudah terang, maka akan tampak jelas bahwa kawasan ini memang merah karena batuannya. Banyaknya kerikil-kerikil yang membuat kami merosot, maka secara naluriah kami tentu mencari batu yang cukup besar sebagai pijakan kami. Namun tidak semua batu besar tersebut kokoh menancap ketanah cukup dalam. Sehingga terkadang batu yang kami injak jatuh kebawah. Oleh karena itu, perlu diwaspadai, jikalau anda salah menginjak batu dan batu tersebut jatuh, maka sangat berbahaya bagi orang yang ada dibawah anda. Cukup untuk membuat kepala pecah dan jatuh terpelanting kebawah jika batu cukup besar. Jikalau memang batu yang jatuh, sebaiknya anda berteriak, “Awas batu!” untuk memperingatkan orang dibawah anda. Trek ini memakan waktu kurang lebih 1 jam hingga tiba benteng.

Benteng merupakan batuan besar memanjang menyerupai benteng pertahanan. Untuk menuju puncak maka kami berjalan kearah kanan sekitar 5 menit. Tepat pukul 5.15 kami tiba di puncak. Ufuk sudah mulai kemerah-merah yang membuat kami tidak sabar untuk berfoto-foto. Namun sebelum itu kami harus menunaikan kewajiban kami, yaitu sholat Subuh. Dan tak lupa kami mengucapkan syukur tak terkira atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menikmati keindahan alam yang tak terkira ini. Setelah itu kami menghabiskan waktu untuk bergaya didepan kamera menyambut mentari pagi. Dibelakang kami, kawah Slamet terus mengepul. Dan dilautan pasir kawahnya tampak batu-batu tersusun yang menyebutkan nama-nama pendaki yang ingin meninggalkan kenangan-kenangan. Dari puncak ini tampak laut Jawa disebelah utara dan samudra Hindia disebelah selatan. Gunung Ciremai pun berdiri kokoh menembus awan disebelah barat laut. Dan yang jelas sangat indah adalah sunrise yang terlihat dibelakang jejeran gunung Sundoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi.

puncak.jpg

  • Base camp Bambangan – Pos Payung : 1 jam
  • Pos Payung - Pintu Gerbang : 2 jam 45 menit
  • Pintu Gerbang – Pondok Cemara : 30 menit
  • Pondok Cemara – Samyang Samarantu : 30 menit
  • Samyang Samarantu – Samyang Rangkah : 30 menit
  • Samyang Rangkah – Samyang Jampang : 45 menit
  • Samyang Jampang – Samyang Ketebonan : 20 menit
  • Samyang Ketebonan – Plawangan : 40 menit
  • Plawangan – Benteng : 1 jam
  • Benteng –Puncak : 5 menit
  • Total perjalanan : 8 jam 5 menit