Home > Renungan > Syukur

Syukur

Dalam dunia ini setiap penilaian pada sesuatu diberikan hanya karena ada sesuatu yang lain. Dengan kata lain adalah proses pembandingan. Seperti halnya teorema dari seorang Einstein, yang berkata bahwa segala sesuatu itu adalah relatif terhadap sesuatu yang lain. Dalam hal ini Einstein memberikan contoh mengenai gerak. Penjelasan singkatnya mungkin seperti ini. Ketika sebuah mobil melaju, mobil itu bisa dikatakan bergerak, atau justru pohon-pohon dipinggir jalan yang bergerak, atau bahkan mobil itu dapat dikatakan tidak bergerak. Mobil dikatakan bergerak pada saat kita sedang berada berdiri dipinggir jalan ketika sebuah mobil sedang melintasi kita. Mobil memang sedang mendekati atau menjauhi kita. Sehingga kita mengatakan bahwa mobil itu bergerak. Dan dapat juga kita katakan bahwa pohon-pohon itulah yang bergerak, alih-alih kita, ketika kita berada didalam mobil dan melihat kepinggir jalan, dimana pohon-pohon itu sedang berlarian menjauhi kita. Namun dapat juga dikatakan bahwa sekalipun speedometer menunjukkan angka 100 km/jam, bahwa kendaraan itu tidak sedang bergerak ketika kita sedang melihat alas tempat duduk kita dimobil. Tidak ada pergerakan antara mobil dan kita. Sehingga dapat kita katakan baik kita maupun mobil sama-sama tidak bergerak. Kesimpulannya adalah darimana sudut pandang kita ambil, dari situlah penilaian yang kita berikan.

Entah kita sadari atau tidak perasaan iri dan dengki dan kebalikannya adalah syukur juga bersumber dari teori tersebut. Ketika kita melihat seseorang yang kondisinya kurang dari kita, entah itu mereka lebih miskin, lebih jelek, lebih bodoh, dan sebagainya, secara tak sadar kita akan mesyukuri keadaan kita sekarang (semoga saja demikian). Misal kita melihat seorang tuna netra, dengan keadaan kita yang dapat melihat, kita akan sangat bersyukur bahwa kita dapat melihat. Tak terbayang jikalau kita ditempatkan pada posisi mereka. Akan berkecamuk berbagai macam perasaan syukur dalam jiwa kita. Namun begitujuga sebaliknya. Ketika kita melihat seseorang dengan kondisi yang lebih dari kita, entah itu lebih pandai, lebih kaya, lebih sukses, lebih sempurna daripada kita, akan timbul perasaan iri atau minimal rasa syukur atas apa yang telah diberikan-Nya kepada kita akan hilang (dan kali ini semoga saja tidak). Begitulah sudut pandang kita berkerja.

Namun yang perlu kita renungkan bersama adalah pertama, bahwa kita memang tidak akan berada dipuncak, karena manusia tidak ada yang sempurna, sehingga jelas masih sangat banyak yang lebih baik daripada kita. Namun kita juga tidak sedang berada didasar, kita berada cukup tinggi untuk dapat melihat kebawah bahwa sangat sangat banyak sekali yang telah diberikan-Nya kepada kita. Kalau anda dan saya adalah seperti rata-rata orang kebanyakan, maka cobalah sekali-sekali berkeliling-keliling, kali ini dengan lebih mengamati sekitar. Jika kita melihat tukang becak, maka seharusnya kita akan sangat bersyukur bahwa keadaan kita lebih baik. Tidak perlu bersusah payah mengayuh beban berat penumpang ditengah panas terik matahari hanya untuk uang seribu dua ribu rupiah. Jika kita melihat tukang sampah, maka kita akan sangat berterima kasih, bahwa kita tidak perlu bergelut dengan berbagai macam sampah dengan baunya yang luar biasa busuknya, dengan kumat penyakit yang ada disekelilingnya, hanya untuk sesuap nasi. Jika kita berada dipersimpangan jalan dan melihat seorang yang tidak memiliki kaki menengadahkan tangannya kepada kita, maka kita akan bersyukur bahwa kita masih memiliki kaki untuk berjalan, berlari sesuka hati kita, sehingga kita dapat mencari pekerjaan yang layak. Dan jika mendengar kisah Helen keller, seorang wanita yang tidak bisa mendengar, melihat maupun berbicara maka syukur tak terhingga bahwa kita masih memiliki sesuatu untuk menikmati dunia ini. Tak akan terbayang jikalau kita yang ditempatkan pada posisi itu. Dan masih banyak lagi contoh lain. Yang pada intinya adalah walaupun kita tidak dipuncak namun kita tidak sedang didasar. Kita masih berada jauh lebih tinggi daripada orang-orang yang dibawah kita.

Kedua, mungkin timbul pertanyaan, bagaimana seandainya kita adalah orang-orang itu. Kita adalah tukang becak, atau kita adalah tukang sampah itu, atau kita adalah penyandang cacat, atau misal kita adalah Helen keller itu sendiri. Jawabannya adalah, dan kita tahu itu, bahwa dalam kehidupan ini tidak hanya satu atau dua varible saja, namun jutaan. Tidak hanya variabel kekayaan, tidak hanya variabel dapat melihat, mendengar, berbicara, namun masih sangat banyak variabel lain. Dan jika anda dan saya berniat mencari variabel tersebut saya rasa tidak akan ada habisnya. Karena Allah menciptakan banyak hal didunia ini. Sehingga kalaupun divariabel yang satu kita lebih rendah, belum tentu divariabel yang lain juga demikian. Mungkin dia cacat namun dia pandai, mungkin dia miskin namun dia cantik, dan seterusnya. Sehingga tidak ada yang mutlak berada didasar. Atau bahkan kita tidak akan pernah dapat berkata kita didasar mengingat variabelnya sangat banyak atau dalam bahasa ilmiahnya penyebaran variabelnya yang sangat luas. Tidaklah heran jikalau misal seorang penyandang cacat yang berpenyakit pula pun dapat tersenyum, karena dari sudut pandangnya masih ada sesuatu yang indah walaupun sulit untuk kita bayangkan.

Ketiga, ada berbagai macam tipe variabel. Ada variabel yang memang kita tidak dapat merubahnya, misal variabel fisik (tampan, buruk rupa, cacat, dsb), variabel otak (pandai, bodoh), dan varibel yang lain. Ada juga variabel yang dapat berubah dengan usaha, misal variabel kekayaan (kaya, miskin), dan variabel yang lain. Dan terakhir, adalah varibel yang kita sendiri yang mengaturnya (walaupun tidak ada didunia ini yang terjadi tanpa sekehendak-Nya) yaitu variabel hati (syukur, puas atas apa yang dimiliki, bahagia, dsb). Yang terakhir inilah yang menurut saya adalah variabel yang sangat penting. Tidak perduli bagaimana variabel yang lain berada, namun jika variabel hati ini berada diatas, maka indahlah dunia ini. Sebagai contoh, orang yang mungkin memiliki segalanya, namun orang tersebut selalu saja merasa ada saja yang kurang. Kemudian bandingkan dengan orang yang mungkin tidak banyak yang dia miliki, namun dia merasa puas dan syukur atas apa yang dimilikinya. Walaupun saya tidak akan pernah dapat mengukur hati seseorang, namun saya dapat berkata bahawa dunia yang lebih indah dan kehidupan yang berbahagia ada dimata orang yang yang kurang tersebut dibanding dengan orang yang memiliki segalanya. Anda tentu paham maksud saya.

Keempat, terlepas dari persoalan darimana sudut pandang kita ambil agar kita bersyukur, kita bahkan tidak punya alasan untuk tidak bersyukur. Kita ibaratnya adalah salah satu anak kecil dari ribuan anak kecil yang datang kerumah seseorang. Masing-masing anak, termasuk kita, mendapatkan sebuah bingkisan. Kemudian seluruh anak pulang kerumahnya masing-masing. Sesampainya dirumah setiap anak membuka bingkisan tersebut. Ada anak yang mendapatkan sepatu baru, baju baru, mainan baru, alat tulis baru, dan sebagainya. Tanpa perlu tahu dan tanpa perlu membandingkan apa yang didapat anak satu dengan anak yang lain, setiap anak tentulah akan sangat berterimakasih kepada si pemberi hadiah. Karena mereka berangkat tadi tanpa membawa apa-apa dan pulang membawa hadiah. Sehingga terlepas dari hadiah kita lebih baik ataupun lebih buruk daripada yang lain, seharusnya kita tetap akan senang dan tetap akan berterimakasih. Begitulah permisalannya. Terlepas kondisi kita sekarang lebih baik ataupun lebih buruk daripada yang lain, kita tetap mendapatkan sesuatu dalam hidup ini. Seharusnya kita bahagia atas apa yang kita dapatkan dan akan selalu bersyukur terhadap-Nya. Anggap saja kita lahir dalam keadaan buta, tuli, bisu, buruk rupa, berpenyakit parah, cebol, dan semua yang buruk-buruk. Kemudian oleh Allah kita diberi mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, diberikan yang baik-baik yang lain, namun kita tidak diberi kesehatan. Apa yang seharusnya kita lakukan? Kita tetap akan bersyukur sekali walaupun kondisi kita sakit-sakitan. Kenapa, karena sudah sangat banyak yang diberikan-Nya kepada kita. Jikalau Allah tidak memberikan satupun, maka keadaan akan sangat jauh lebih buruk. Sehingga seperti saya katakana diawal, sedikitpun kita tidak punya alasan untuk tidak bersyukur.

Mengingat hal-hal diatas, mari kita sama-sama berusaha untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT atas apa kita miliki sekarang. Kita tidak perlu memusingkan apa yang tidak kita miliki, karena seharusnya kita sama sekali tidak punya waktu untuk itu, disaat terlalu banyak rezeki dan karunia-Nya yang belum kita syukuri.

Jika ada mutiara dalam tulisan saya maka ambilah, itu bukan murni dari saya, otak ini pemberian. Namun jika hanya ada lumpur dalam tulisan saya, maka buanglah jauh-jauh. Semoga saya tidak hanya dapat berpikir namun juga dapat melaksanakannya.

Categories: Renungan Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: