Home > Kisah, Renungan > Anak Yang Terus Berjuang

Anak Yang Terus Berjuang

Tubuhnya lengkap, selengkap tubuh anak normal lainnya, tidak kurang satu apapun. Inderanya dapat berfungsi dengan baik. Namun jiwanya entah dimana. Tubuhnya hadir namun jiwanya berada ditempat lain. Dia punya dunia sendiri, dunia yang berbeda dengan dunia kita. Dia akan tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, meloncat kegirangan atau dia akan menjerit dan menangis histeris tanpa diketahui penyebabnya. Orang lain, selain dirinya, tidak akan pernah mengerti, karena itulah dunianya. Dunia yang hanya ada dalam pikirannya, dunia yang tidak pernah kita tahu seperti apa keadaanya. Hanya dari ekspresi-ekspresi tersebutlah orang dapat mengetahui kondisi hatinya. Kita dapat berinteraksi dengan tubuhnya namun sulit dengan jiwanya. Dimanakah sebenarnya jiwanya berada?

Pada suatu waktu, dia layaknya anak normal lainnya dengan tingkah laku yang wajar. Bermain dengan mainan ataupun menonton televisi dengan wajar. Namun diluar itu, hampir setiap waktunya dia akan berperilaku seperti orang yang menggila. Dia akan merusak segala sesuatu, menghambur-hampurkan barang, mencoret-coret tembok, berteriak, menangis, melompat-lompat, memukul diri sendiri. Dia berbicara layaknya orang gagap. Dia kesulitan untuk saling bertatap mata dengan seseorang. Bahkan diapun sudah mampu mengabaikan rasa sakit yang dideritanya.

Bukan, dia bukan gila. Karena sebenarnya dia memiliki otak yang cerdas. Dan dia juga bukan anak nakal. Dia adalah anak yang sedang dan senantiasa berjuang. Mungkin mudah bagi kita – manusia normal – pada saat kita menginginkan sesuatu dan tubuh kita meresponnya dengan baik. Ketika kita ingin mengambil sesuatu maka tangan kita akan dengan mudah bergerak. Ketika kita ingin melihat sesuatu maka mata kita juga dengan mudah fokus melihat. Ketika kita ingin berbicara maka dengan mudah seluruh sistem bicara kita untuk menghasilkan suara sesuai keinginan. Namun tidak dengan dia. Dia harus berusaha keras untuk itu. Ketika dia ingin memegang pensil, mungkin dia sudah memerintahkan jari-jarinya, namun jari-jarinya tidak bergerak sesuai keinginannya. Ketika dia ingin mengucapkan sesuatu, mungkin dia sudah memerintahkannya sistem wicaranya. Namun semua tidak bekerja sesuai keinginannya. Adakalanya dia akan marah, akan menangis, akan memukul dirinya sendiri, karena dia tak tahu harus bagaimana lagi. Hal itu sangatlah wajar, karena anak seperti dia harus melakukan tugas yang sangat berat hanya untuk mengendalikan tubuhnya. Dia juga akan melompat-lompat, berputar-putar tidak jelas,untuk menstimulasi dirinya. Dia benar-benar sedang berusaha dan berjuang sekuat tenaga untuk mengendalikan tubuhnya. Usaha yang tidaklah mudah.

Autisme, itulah istilah yang diberikan dokter untuk anak dengan jenis kelainan mental seperti ini. Hingga saat ini penyebab dan pengobatannya belum diketahui dengan pasti. Semua masih dalam proses riset. Dan yang paling mengerikan adalah menurut hasil penelitian laju pertumbuhan penyakit ini sudah sangat cepat. Diperkirakan dari 150 anak yang dilahirkan 1 diantara menderita autisme. Entah kenapa penyakit ini dapat berkembang dengan cepat. Mengingat autisme bukan penyakit menular, hal ini cukup mengherankan. Segalanya masih tidak jelas. Namun satu yang pasti. Anak autisme ada hanya untuk keluarga yang hebat. Orang tua yang hebat. Setiap hari mereka harus mengorbankan rasa lelah dan melawan kantuk untuk merawat dan mendidik sang anak. Sabar untuk terus berjuang mengembalikan jiwa sang anak. Menguras seluruh energi yang dimiliki hingga melebihi batas kewajaran. Tidak pernah lagi ada kata berlibur bagi mereka. Mereka juga harus mengorbakan harta mereka untuk membiayai pengobatan sang anak. Mereka juga harus mengorbankan rasa malu jikalau sang anak bertingkah mengacau ditengah masyarakat. Mereka juga harus mengorbankan rasa marah jikalau masyarakat menganggap sang anak adalah anak nakal yang tidak tahu sopan santun, atau masyarakat menganggap mereka adalah orang tua yang tidak becus mengajari anaknya. Mereka benar-benar orang yang sangat hebat karena harus melakukan semua ini. Saudara kandungpun, jikalau ada, juga termasuk orang yang hebat. Bagaimana dia harus bersabar ketika teman-teman sekolahnya menjadikan saudaranya bahan ejekan. Bagaimana dia harus menerima kenyataan bahwa perhatian orang tuanya kepadanya akan sedikit berkurang karena harus memperhatikan saudaranya. Bagaimana dia juga harus mengajaknya bermain kendatipun permainan itu tidak bakal menyenangkan layaknya dia bermain dengan teman sebayanya. Untuk ukuran seorang anak yang sedang tumbuh, dia juga adalah kakak atau adik yang hebat pula.

Anak-anak dengan autisme, dia mungkin tampak tidak indah, dia mungkin tampak tidak berharga, namun dia telah mencetak manusia-manusia mutiara untuk orang disekitarnya. Dia telah mencetak manusia dengan kadar sabar tingkat tinggi, kadar cinta benar-benar tulus, kadar ikhtiar dan tawakkal yang tidak dimiliki sembarang orang. Dia benar-benar telah mencetak manusia-manusia unggulan. Dan diapun sebenarnya adalah anak unggulan pula. Seorang anak yang terus berjuang.

Wherever you are, we always be with you.
Cepatlah kembali, Udin…

Categories: Kisah, Renungan Tags:
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: