Home > Renungan > Jangan Buat Batasanmu Sendiri

Jangan Buat Batasanmu Sendiri

Mengingat buku bacaan masa kecil, Kungfu Boy, karya Takeshi Maekawa

Chinmi adalah salah satu murid dari perguruan kungfu Kuil Dairin. Bisa dibilang kemampuan kungfu tangan kosong-nya sudah cukup bagus. Oleh karena itu, kali ini Chinmi diperkenalkan oleh Pak Tua kepada seorang guru ilmu kompo atau ilmu tongkat buta yang bernama Riki. Mulailah satu Chinmi berlatih di perguruan tongkat Riki.

Setelah cukup lama berlatih ilmu tongkat dengan murid Riki yang lain, Chinmi semakin terbiasa dan mahir dalam menggunakan tongkat. Dalam latihan tanding Chinmi mampu mengalahkan murid-murid Riki lainnya. Namun melawan Teiki yang berbadan jauh lebih besar, Chinmi benar-benar tidak berkutik. Riki pun menyuruh Chinmi bersemedi di kuil Furendo untuk mengetahui rahasia ilmu tongkat. Dan setelah badai besar yang terjadi pada hari ke tiga persemediannya, Chinmi mengetahui rahasia ilmu tongkat, yaitu filosofi pohon bambu.. Chinmi pun kembali ke perguruan dan meminta tanding ulang dengan Teiki. Dengan tidak terlalu sulit akhirnya Chinmi mampu mengalahkannya. Chinmi kemudian meminta tanding dengan gurunya, Riki. Namun kali ini Chinmi kalah, karena belum memahami keseluruhan filosofi pohon bambu. Chinmi pun akhirnya sadar, dan kali ini ia mampu menahan gerakan-gerakan dari Riki. Hari-hari berikutnya Chinmi benar-benar tak terkalahkan oleh murid-murid yang lain, Chinmi dapat menang dengan mudah ketika latihan tanding.

Hingga datang Guru Soshu dan muridnya Sie-Fan. Guru Soshu adalah guru dari Riki. Usia Sie-Fan sepantaran dengan Chinmi, namun perawakan tubuhnya jauh lebih kecil. Suatu malam Chinmi meminta ijin kepada Riki dan Guru Soshu untuk bertanding melawan Sie-Fan. Permintaanpun disetujui dan mereka berdua bertanding. Chinmi yang sangat percaya diri akan kemampuan tongkatnya, diluar perkiraanya, mampu dikalahkan dengan mudah oleh Sie-Fan dan sangat telak. Chinmi pun shock berat. Sakit disekujur tubuhnya masih tidak sebanding dengan sakit dihatinya. Dia yang merasa jauh lebih hebat ternyata dapat dikalahkan dengan sangat telak. Chinmi terus mengurung diri. Kemudian Guru Soshu menemui Chinmi dengan membawa sebuah kotak untuk diperlihatkan kepadanya. Kotak pun dibuka. Dan seekor kutu meloncat keluar, dengan loncatan kurang lebih setinggi kotak.

Guru Soshu berkata, “Kutu itu adalah kau.”

Dan kemudian Guru Soshu mengambil seekor kutu lagi dari tubuh Go Kong, kera peliharaan Chinmi, dan membiarkannya melompat. Kutu itupun melompat pergi. Namun kali ini loncatan kutu jauh lebih tinggi.

Guru Soshu pun berkata, “Dan kali ini kutu itu adalah Sie-Fan.”

Chinmi pun dengan spontan berkata, “Apakah maksud Guru Soshu bahwa kemampuan mereka jauh berbeda?”

“Tidak, kedua kutu itu adalah kutu yang sama, seharusnya loncatanya pun sama. Namun kenapa loncatan kedua kutu itu bisa jauh berbeda? Jikalau kau tahu jawabnya maka kau tidak akan dengan kalah telak seperti kemarin.” Guru Soshu menambahkan.

Setelah kejadian tak sengaja, Chinmi menemukan jawabannya. Ia pun menghadap Guru Soshu.

Chinmi pun berkata, “Guru Soshu, aku tahu jawabannya. Karena sekarang kedua kutu yang semula berbeda loncatannya itu, sekarang setelah dimasukkan kedalam kotak yang sama, loncatannya menjadi sama tingginya. Kutu tidak akan meloncat lebih tinggi dari tinggi kotak.”

Chinmi membuka kotak, kutu pun meloncat keluar. Dan memang benar kedua kutu itu kini memiliki tinggi loncatan yang sama.

Guru Soshu sambil tersenyum berkata, “Kau benar Chinmi, kutu-kutu itu tidak akan meloncat lebih tinggi dari kotak. Kenapa demikian? Padahal jika kutu itu mau dia bisa meloncat jauh lebih tinggi. Itu karena ketika dia mencoba meloncat tinggi, kutu itu terbentur tutup kotak. Dan akan terus begitu ketika kutu mencoba meloncat lebih tinggi dari tutup kotak. Oleh karena itu kutu itu akhirnya meloncat pada ketinggian dibawah ketinggian tutup kotak, sehingga dia tidak terbentur lagi.”

“Dan begitulah juga dirimu. Kau menganggap dirimu sudah hebat. Maka jadilah kau seperti yang sekarang. Kau tidak akan pernah bisa lebih hebat lagi dari sekarang, karena kau membuat batasanmu sendiri. Padahal diluar sana masih banyak yang jauh lebih hebat daripada dirimu. Jika kau buat batasan dirimu sendiri, berakhirlah kau.” Guru Soshu melanjutkan.

Cuplikan kisah diatas memberikan pelajaran bagaimana jika seseorang punya sifat takabur, maka orang tersebut bagaikan kutu yang terperangkap dalam kotak. Kutu yang akhirnya tidak dapat untuk meloncat tinggi walaupun sebenarnya dia mampu. Tanpa disadari memang pada saat seseorang mampu mendapatkan prestasi maka bibit penyakit takabur ini akan berusaha untuk merasuki. Misal jikalau seseorang mendapatkan juara 1dikelas, maka jika terasuki penyakit takabur, ia akan merasa dirinyalah yang memang paling pandai. Tanpa sadar sebenarnya ia telah membuat batasan dirinya. Ia akan sibuk untuk berbangga diri, dan cukup malas untuk belajar lebih jauh karena merasa sudah pandai. Penyakit takabur benar-benar akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Disaat orang lain sibuk untuk terus memperbaiki diri, ia malah jalan ditempat. Seluruh potensi diri yang ia miliki malahia tutup dengan sengaja. Jangan heran jika suatu saat orang yang takabur akan jatuh terpelosok. Bukankah mengerikan?

Selain manjakan imajinasi ternyata komik ini ada manfaatnya juga

Categories: Renungan Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: