Home > Renungan > Tekad dan Semangat

Tekad dan Semangat

Dalam pelajaran biologi pada sekolah menengah kita diajarkan bahwa otot dibagi menjadi tiga macam, yaitu otot polos, otot rangka atau otot lurik, dan otot jantung. Otot polos, sebagaimana yang diajarkan guru, memiliki bentuk seperti kumparan, berinti satu yang terletak ditengah, dan bekerja secara tidak sadar. Otot polos terdapat antar lain pada sistem pencernaan dan pembuluh darah. Otot rangka berbentuk silindris, memiliki garis lintang gelap dan terang yang tersusun berselang-seling, berinti banyak yang terdapat dipinggir, dan bekerja secara sadar. Otot rangka terdapat melekat pada rangka. Otot jantung memiliki struktur yang sama seperti otot rangka hanya saja serabutnya bercabang-cabang dan saling beranyaman. Otot jantung memiliki inti sel banyak yang terdapat ditengah dan bekerja secara tidak sadar. Otot jantung hanya terdapat pada jantung.

Saya tidak akan menjelaskan lebih jauh, karena jujur saja saya sendiri tidak punya ilmunya. Tapi dari penjelasan singkat diatas, saya ingin mengamati dari sisi bagaimana ketiga jenis otot tersebut bekerja. Kita lihat bahwa otot polos dan otot jantung bekerja secara tidak sadar. Kita seharusnya sangat bersyukur karena ini. Tak terbayang jikalau seandainya kedua otot ini harus kita gerakkan secara sadar, kita tidak akan pernah punya waktu untuk memikirkan hal lain didunia ini, karena kita harus menggerakkan otot jantung kita paling tidak 60 kali dalam satu menit. Atau kita tidak akan sempat menikmati rasa makanan yang kita makan, karena kita sibuk untuk mengatur otot organ pencernaan kita. Belum lagi bagaimana kita bisa tidur jika ingin tetap hidup. Untung saja hal itu tidak terjadi.

Dan kali ini, benar-benar otot yang harus kita atur kerjanya adalah otot rangka. Otot yang dengan setia mendampingi rangka, yang berperan layaknya motor penggerak. Tangan, kaki, dan seluruh pergerakan tubuh digerakkan berkat otot ini. Karena otot ini tergolong otot yang bekerja secara sadar maka atas instruksi otaklah otot ini bekerja. Tidak seperti halnya pada otot tak sadar yang ‘bergerak’ emang karena harus bergerak, pada otot sadar, perintah dari keinginan atau kehendak dari kitalah yang akan menjadikan otot rangka ini bekerja. Namun keinginan jika tidak ditransformasikan menjadi suatu perintah kepada otot, maka itu hanya akan menjadi sekedar keinginan, tidak ada aksi. Dan sepertinya dari sinilah awal ceritanya. Keinginan dikepala kita itu banyak sekali gangguannya.Sehingga sebuah keinginan yang sebenarnya gampang sekali untuk ditransformasikan menjadi sebuah perintah gerak, karena berbenturan dengan pikiran-pikiran pengganggu, maka proses transformasi menjadi suatu hal yang sangat sulit. Contohnya adalah perasaan malas, perasaan tidak mampu, perasaan takut gagal, dan lain-lain. Jadi tidaklah heran jika misal,waktu sholat telah tiba tapi lebih suka mengulur-ulur waktu karena malas. Atau merasa tidak mampu untuk mengerjakan sesuatu sehingga memilih untuk menyerah saja. Jiwa sebagai pengambil keputusan ternyata lebih terpengaruh pikiran-pikiran yang menyesatkan. Tubuh yang hanya sebagai eksekutor atau pelaksana layaknya seorang bawahan yang patuh tentu saja tidak akan ‘beraksi’ jika tidak ada perintah, walaupun sebenarnya kemampuan untuk itu sangat berlebih. Sebagai seorang atasan, sang pengambil keputusan, terlalu banyak pikiran-pikiran yang memberikan masukan, entah masukan baik ataupun masukan buruk. Tergantung bagaimana kita memilah dan memilih pikiran mana yang seharusnya kita anut. Maka seorang motivator selalu saja menanamkan tekad, kemauan, semangat, jika seseorang ingin sukses. Yang itu semua tak lain adalah perintah kepada tubuh kita untuk bekerja. Seorang yang telah putus asa, depresi, tidak ada yang dapat menolong dirinya untuk berubah kecuali dirinya sendiri.Karena pikiran-pikiran yang ada dikepalanya adalah pikiran yang meniadakan perintah kepada tubuh. Bagaimana dapat berubah padahal dia sendiri memang tidak memberikan perintah apa-apa. Selama seseorang tidak ingin bertindak, entah itu karena malas, merasa tidak mampu, atau apapun, maka jangan salahkan siapa-siapa karena tidak terjadi apa-apa. Semua tergantung diri kita masing-masing.

Sedikit eksperimen. Pada suatu pagi yang cerah, silakan menuju lapangan kota yang biasanya ada lintasan lari dipinggirnya. Lintasan dipinggir lapangan yang standar adalah sepanjang 400 m untuk satu putaran penuh. Cobalah untuk lari keliling lapangan tersebut lima putaran (jadi kalau dihitung 2 km) non stop, tanpa sedikit pun berjalan apalagi beristirahat. Lari tidak perlu cepat, santai pun tidak apa-apa, asal benar-benar lari. Mungkin pada putaran pertama sudah ada pikiran, “aku tidak kuat”, tapi cobalah untuk paksakan. Pada putaran kedua, “aku benar-benar tidak kuat, aku ingin berhenti”, tapi sekali lagi, paksa dan lawan perasaan itu sekuat tenaga.Setiap pikiran itu keluar, paksa dan lawan. Larilah terus tanpa berpikir apapun, pikiran kosong jika perlu. Saya yakin anda pasti mampu (kecuali anda benar-benar pingsan). Otak sebenarnya memberikan informasi mengenai kondisi tubuh, masih kuat ataupun sudah kritis tidak kuat lagi. Tapi informasi itu benar-benar, tidak jelas lagi. Ketika perasaan “tidak mampu lagi” itu muncul, itu sudah tidak jelas lagi apakah dari otak yang menginformasikan kepada kita bahwa otot kaki, jantung, paru-paru kita benar-benar sudah kondisi lemah, atau hanya sekedar perasaan emosional kita yang menginginkan kita untuk berhenti. Namun ketika kita paksaan, kitapun mampu sebenarnya.Terlepas mana yang benar, jujur saja sepertinya kita (paling tidak saya sendiri) lebih sering mengabulkan permintaan emosional kita. Sehingga, walaupun tubuh masih terlalu jauh dari batas kemampuan maksimal, kita sudah menyerah. Perintah kepada tubuh dicabut. Jadilah sampai disana saja perjuangan kita. Namun banyak juga yang tidak seperti itu. Dengan tekad dan semangat yang membara, mereka benar-benar telah mampu memaksakan kemampuan mereka hingga batas yang paling maksimal. Dan merekalah orang-orang yang sukses. Semoga saya dan anda dapat menjadi salah satu dari mereka.

Categories: Renungan
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: