Home > Renungan > Hope Theorem

Hope Theorem

Setiap ada aksi tentu ada reaksi yang melawan dengan besar yang sama. “Every action has an equal and opposite reaction”. Kurang lebih begitulah inti dari postulat ketiga dari Hukum Newton. Yang guru Fisika kita memberikan contoh, kenapa kita dapat berdiri diatas lantai, alih-alih terperosok kedalam bumi, karena lantai memberikan gaya dengan besar yang sama kepada kita yang melawan gaya berat kita sehingga kita tidak jadi tertelan bumi. Atau kenapa anak-anak dapat bermain tarik tambang dengan gembira, alih-alih tambangnya langsung putus ketika ditarik, karena tali tambang melawan gaya tarikan anak-anak tersebut dengan gaya tegang tali sehingga pada batas tertentu tali tambang masih mampu mengimbangi kekuatan tarikan dua sisi dari anak-anak tersebut. Dalam pelajaran bahasa Indonesia, kita pernah mendengar peribahasa ‘tak ada asap kalau tak ada api’ atau dengan tata bahasa dibalik ‘ada asap ada api’, yang guru bahasa kita mengajarkan bahwa peribahasa itu berarti bahwa tak ada sesuatu yang terjadi tanpa sebab, itupun intinya juga sama dengan postulat ketiga hukum Newton walaupun berbeda penerapan. Pada kasus ini penerapannya biasanya adalah hukum sebab akibat. Orang tidak akan celaka jika tidak ceroboh, dan seterusnya. Sedangkan hukum Newton memang diterapkan untuk menyelesaikan persoalan fisika dasar. Tapi bukankah aksi reaksi juga dapat diistilahkan sebagai sebab akibat.

Dan yang ingin saya bicarakan ini, sedikit berhubungan dengan teori tentang hukum aksi reaksi atau sebab akibat, adalah tentang teori sebuah harapan. Bisa dibilang semua kesedihan, kekecewan, kemarahan diakibatkan oleh harapan yang tidak terpenuhi. Karena harapan ibarat keinginan atau angan-angan yang ditancapkan dilangit yang ingin digapai. Semakin tinggi keinginan itu ditancapkan semakin besar pula usaha yang harus dilakukan untuk menggapainya. Dan semakin tinggi pula kemungkinan jatuh jika tidak berhasil menggapainya. Ada dua jenis harapan. Yang pertama adalah harapan dari diri kita untuk diri kita sendiri. Ini tak lain tak bukan adalah keinginan atau cita-cita. Dan ini haruslah ada. Orang berkata harapanlah satu-satunya alasan seseorang untuk hidup. Harapan melihat orang yang dikasihinya bahagia, harapan untuk sukses, harapan untuk mendapatkan surga-Nya kelak, harapan untuk kembali kepada-Nya sebagai hamba-Nya yang patuh, dan seterusnya. Harapanlah yang menjadi bahan bakar seseorang untuk terus melaju. Harapan untuk hidup lebih nyamanlah yang membuat orang yang terpuruk terus berjuang untuk bangkit. Harapan untuk merdeka dan hidup damailah membuat sebuah negara terus bertahan memperjuangkan hak-haknya dari kaum penjajah. Namun yang harus disadari, sesuai teori diawal tadi, adalah semakin tinggi harapan yang dibuat semakin tinggi pula kekecewaan yang akan mendera jika gagal. Tapi justru salah besar jika itu malah membuat takut untuk menancapkan harapan setinggi langit. Harapan adalah cita-cita. Harapan adalah titik tuju. Semakin tinggi harapan semakin kuat usaha untuk mencapainya. Itu yang harus dilakukan. Namun jikalau belum berhasil memenuhi harapan, itu bukanlah gagal, karena paling buruk adalah kembali ketitik awal, namun paling tidak sudah beranjak. Dan itu hanya berarti belum berhasil. Gagal ada tetap ditempat tanpa usaha untuk berubah. Buanglah kekecewaan itu.

Kedua, adalah harapan dari orang lain untuk diri kita. Dan ini seharusnya tidak boleh ada. Harapan untuk dipuji, harapan untuk dihormati, harapan untuk dicintai dan seterusnya. Kenapa harapan semacam ini tidak boleh ada karena, pertama, orang yang ingin dipuji, dihormati, dicintai adalah orang yang merasa dirinya pantas untuk dipuji, dihormati, dicintai. Dan orang yang merasa pantas adalah orang yang takabur, orang yang sombong, dan itu salah satu penyakit hati. Bukankah penyakit adalah sesuatu yang buruk. Sombong adalah milik-Nya karena memang Dia-lah pemilik segalanya. Bukankah agama selalu mengajarkan demikian. Dan yang kedua, selain karena memberi jauh lebih mulia daripada menerima, namun ketika seseorang berharap suatu perlakuan dari orang lain, entah itu ingin dihormati ataupun yang lain, maka sebetulnya orang itu telah menebar bibit kekecewaan, kesedihan, kemarahan dalam dirinya. Ketika ingin dipuji, namun ternyata tidak ada pujian yang didapat, yang ada hanyalah kecewa. Ketika ingin dihormati tetapi yang terjadi justru tidak dihiraukan, hanya marahlah yang timbul. Jika bibit-bibit kecewa, sedih, marah tidak pernah ditanam, maka orang tersebut tetap tenang-tenang saja. Itulah mengapa seorang yang ditolak cintanya akan sedih bekepanjangan karena berharap orang yang dicintainya juga mencintai dirinya, namun ternyata tidak terwujud. Anda akan menuai apa yang anda tanam, hukum aksi reaksi lagi. Bukankah agama selalu mengajarkan untuk selalu bersikap tawaddu’ atau rendah diri dan juga mengajarkan untuk memberi jangan berharap menerima?

Categories: Renungan Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: