Home > Renungan > Mysterious Talent

Mysterious Talent

Bakat laksana Area 51 di Gurun Nevada, tempat dimana mayat-mayat alien disembunyikan: misterius! Jika setiap orang tahu dengan pasti apa bakatnya maka itu adalah utopia. Sayangnya utopia tak ada dalam dunia nyata. Bakat tidak seperti alergi, dan ia tidak otomatis timbul seperti jerawat, tapi dalam banyak kejadian ia harus ditemukan.

Banyak orang yang berusaha mati-matian menemukan bakatnya dan banyak pula yang menunggu seumur hidup agar bakatnya atau dirinya ditemukan, tapi lebih banyak lagi yang merasa dirinya berbakat padahal tidak. Bakat menghinggapi orang tanpa diundang. Bakat main bola seperti Van Basten mungkin diam-diam dimiliki seorang tukang taksir di kantor pegadaian di Tanjong Pandan. Seorang Karl Marx yang lain bisa saja sekarang sedang duduk menjaga wartel di sebuah kampus di Bandung. Seorang kondektur ternyata adalah John Denver, seorang salesman ternyata berpotensi menjadi penembak jitu, atau salah seorang tukan nasi bebek di Surabaya ternyata berbakat menjadi komposer besar seperti Zubin Mehta.

Namun, mereka sendiri tak pernah mengetahui hal itu. Si tukang taksir terlalu sibukmelayani orang Belitong yang kehabisan uang sehingga tak punya waktu main bola, sang penjaga wartel sepanjang hari hanya duduk memandangi struk yang menjulur-julur dari printer Epson yang bunyinya merisaukan seperti lidah wanita dalam film Perempuan Berambut Api, kondektur dan salesman setiap hari mengukur jalan, dan lingkungan si tukang nasi bebek sama sekali jauh dari sesuatu yang berhubungan dengan musik klasik. Ia hanya tahu bahwa jika mendengarkan orkestra telinganya mampu melacak nada demi nada yang berdenting dari setiap instrument dan hatinya bergetar hebat. Sayangnya sepanjang hidupnya ia tak pernah mendapat kesempatan sekali pun memegang alat musik, dan tak juga pernah adaseorang pun yang menemukannya. Maka ketika ia mati, bakat besar gilang gemilang pun ikut terkubur bersamanya. Seperti mutiara yang tertelan kerang, tak pernah seorang pun melihat kilaunya.

Paragraf diatas merupakan cuplikan dari buku Laskar Pelangi karya Andrea Higata yang kesohor itu. Begitulah kiranya bakat itu, setidaknya itu menurut pendapat akang dari Belitong ini yang juga sangat saya sepakati. Layaknya kuis Deal or No Deal yang tidak mengandalkan kepintaran sama sekali dimana pesertanya diminta memilih sebuah angka untuk mendapatkan uang yang tersembunyi dibalik koper, begitu pula lah bakat itu tersembunyi. Bermacam-macam nilai nominal yang tersembunyi dibalik koper itu, mulai dari jumlah uang yang hanya cukup digunakan untuk membeli es cendol hingga uang yang mampu digunakan untuk membangun kolam es cendol seluas satu hektar. Jika tebakan awal sudah menunjukkan nominal nilai terbesar atau paling tidak termasuk nilai besar maka beruntunglah ia. Jika kita dibesarkan sesuai dengan bakat kita, atau paling tidak walaupun bukan bakat terbesar kita namun sudah termasuk dalam peringkat atas bakat yang kita miliki, maka kita sudah termasuk orang yang sangat beruntung. Namun jika menilik sejarah sepertinya untuk menemukan bakat dibutuhkan pencarian dan perjuangan. Satu yang mungkin tidak ada salahnya untuk diyakini, yaitu diantara ribuan loker keahlian yang dimiliki setiap manusia, Tuhan memasukkan bakat pada salah satu loker tersebut. Entah itu loker keahlian bermain piano, menulis puisi, menggocek bola, mencipta sesuatu, melukis, bisa dimana saja. Jika loker yang kita buka bukan loker yang berisi bakat, tergantung bagaimana langkah kita selanjutnya. Apakah kita sudah cukup puas dengan loker yang kita buka atau tidak. Jika kita ingin menemukan loker berisi bakat, maka kita harus membuka loker itu satu persatu. Jika kita hanya terpaku pada aktivitas kita yang sekarang maka kita sudah terpaku di satu loker saja. Dan untuk menemukan loker bakat kita harus mencoba berbagai jenis hal. Seperti kata orang bijak yang hidup sebelum kita, ‘kita tidak akan pernah tahu jika tidak pernah mencoba’. Tukang bebek tidak akan pernah tahu jika ternyata dia berbakat sebagai komposer karena tidak pernah sedikitpun menyentuh alat musik. Dan ia sengaja atau tidak sengaja telah terpaku pada loker ‘bebek’ nya. Dua liter usaha dan satu sendok teh kesempatan dicampur dalam sebuah wadah keinginan mungkin adalah resepnya. Jika berkeinginan menemukan bakatnya maka dibutuhkan usaha yang cukup besar dan berharap datangnya kesempatan.

Layaknya lika liku kehidupan, maka seni penemuan bakat pun demikian adanya. Seperti permainan ular tangga, dimana langkah kita kedepan akan mempengaruhi bagaimana perjalanan kehidupan kita selanjutnya. Pada saat kita melangkah, bisa saja itu merupakan langkah yang tepat karena kita menemukan tangga yang membawa kita jauh melesat kedepan. Seorang anak menemukan bakatnya bermain catur karena tidak sengaja berjualan koran didepan sekolah catur. Wright bersaudara mungkin tidak akan pernah menjadi penemu pesawat terbang jika mereka tidak memulai bisnis sepedanya. Seorang J.K. Rolling menemukan bakat menulisnya karena dia dipecat dari kerjaan dan diceraikan oleh suaminya.

Dan terakhir. perjalanan penemuan bakat sepertinya tidak segamblang halnya ketika sales menerangkan barang dagangannya. Jika kita merasa tidak pandai menendang bukan berarti kita sudah tidak berbakat bermain bola. Jika kita merasa suara kita mirip suara kaset kusut yang diputar bukan berarti kita sudah tidak berbakat menyanyi. Walaupun mungkin itu adalah sebuah pertanda, namun bisa saja itu hanya merupakan hambatan awal saja. Layaknya karang yang sedikit memberikan hambatan untuk perahu yang akan menuju luasnya samudra. Nahkoda kapal hanya perlu mencari cara untuk menembus barisan karang itu.

Semoga bakat kita tidak ikut terkubur sebelum pernah kita temukan.

Categories: Renungan Tags:
  1. basman
    April 15, 2008 at 9:34 pm

    Bagaimana jika seandainya Michael Jordan ga pernah menyentuh bola basket, atau Valentino Rossi juga ga pernah kebut2an? Dunia bakal jadi kurang rame kayanya.
    Bersyukurlah orang2 yang dijodohkan bertemu dengan bakatnya

    @:
    yak betul

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: