Home > Renungan > Bagaimana kita menilai sesuatu

Bagaimana kita menilai sesuatu

Guru IPS kita mengajarkan bahwa pada jaman dahulu sistem jual beli menggunakan sistem barter, yaitu membeli sesuatu dengan menukarkan barang yang dianggap sepadan, atau paling tidak ada kesepakatan antara kedua belah pihak. Sistem ini dipakai karena memang pada jaman tersebut belum memiliki nilai tukar yang jelas. Dan kemudian diciptakanlah mata uang , yang bertujuan agar suatu benda memiliki nilai tukar yang jelas yang dipakai merata oleh masyarakat. Sehingga setelah adanya mata uang tersebut kita dalam menentukan nilai atau harga suatu barang lebih mudah. Sandal ini harga berapa, topi ini harga berapa, baju ini harga berapa, sudah sangat jelas (dan yang paling jelas barang kita tidak bertambah hanya karena kita ingin menjual sesuatu seperti halnya pada proses barter).

Namun, meskipun sekarang suatu benda sudah mempunyai nilai yang jelas, tingkat kepuasan tetaplah berbeda. Contoh mudahnya adalah, semisal didompet kita ada uang 100 ribu dan juga terselip satu lembar 5 ribu. Bagaimana perasaan anda terhadap uang 5 ribu ini. Apakah masih terasa sangat bernilai? Kemudian coba berikan 5 ribu ini kepada pengemis yang ada diperempatan jalan didekat rumah anda. Menurut anda bagaimana perasaannya? Saya bisa membayangkan, pengemis yang biasanya menerima uang recehan dan sekarang menerima satu lembar 5 ribu dari anda tadi akan sangat gembira. Nilai uang tidak pernah berubah, tetap uang dengan 5 ribu rupiah. Namun tingkat kepuasan dan kenikmatannya berbeda. Contoh yang lain. Jika anda pernah mengalami atau paling tidak mengetahui kehidupan mahasiswa perantauan dengan uang saku yang pas-pasan. Untuk membeli makan sehari-hari mereka harus benar-benar pehitungan, jika tidak ingin akhir bulan mati kelaparan. Mencari warung dengan harga yang sangat terjangkau dan lauk yang dipilihpun harus yang biasa-biasa saja. Dan suatu saat mahasiswa ini ditraktir temannya makan ikan bakar. Bisa dibayangkan bagaimana rasa ikan bakar ini dilidah mahasiswa tersebut. Menurut saya rasanya akan sangat luar biasa nikmatnya.Dan coba dibandingkan dengan orang yang mungkin cukup mampu untuk makan ikan bakar setiap minggu sekali. Rasanya mungkin tidak akan senikmat mahasiswa itu tadi. Sama ikan bakarnya namun kenikmatannya berbeda.

Pesan moralnya adalah, walalupun kita hidup dalam kekurangan, kita tidak perlu bersedih. Bahkan kita seharusnya senang. Karena Allah memberikan banyak peluang pada kita untuk menyantap kenikmatan yang bermacam-macam. Semakin kita kaya atau mampu, maka peluang kenikmatan itu akan diambil sedikit demi sedikit dari kita. Seorang kakak pernah berkata kepada saya, “Sekarang kita sudah kehilangan kenikmatan uang lima ratus rupiah. Lihatlah pengemis-pengemis itu, mereka diberi kenikmatan hanya dengan menerima uang lima ratus.” Bisa anda bayangkan seorang Bill Gates, yang katanya adalah orang terkaya didunia, seberapa banyak kenikmatan yang diambil darinya. Dia bisa membeli mobil sebanyak apapun, rumah semewah apapun, makanan selezat apapun, tapi kenikmatannya akan sangat sangat jauh berbeda dibandingkan kita jika kita seandainya punya mobil (walaupun cukup satu) dan.rumah (walaupun tidak mewah). Bukankan kenikmatan adalah hal yang terpenting? Walaupun tidak banyak yang kita miliki namun kita masih cukup kaya dengan bagaimana kita menilai sesuatu itu dengan hati kita. Tetaplah tersenyum, kawan!

Categories: Renungan Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: