Home > Mounteneering > Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 1 (perjalanan)

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 1 (perjalanan)

Rabu, 19 Maret 2008, 18:30

Libur dua hari, kamis dan jumat, ini tampaknya membuat orang-orang pendatang dari luar kota terangsang untuk mudik ke kampung halamannya masing-masing. Walaupun saya menyangka akan ada peningkatan lalu lintas yang mengarah menuju keluar kota Surabaya, namun saya tidak pernah menyangka bahwa jalanan bakal se-crowded ini. Mirip sekali dengan suasanan mudik lebaran. Dari tempat tinggal menuju terminal Bungurasih di Waru sana biasanya hanya memakan waktu 40 menit, kali ini saya menghabiskan waktu satu jam setengah. Itu pun harus berkali-kali harus melenggak-lenggok diatara mobil yang terjebak macet. Terkadang juga harus berhenti dalam waktu yang cukup lama karena penumpukan kendaraan. Kemacetan yang biasanya hanya saya dengar dari televisi yang memberitakan tentang kemacetan di Jakarta, kali harus saya alami sendiri dikota Surabaya ini. Walaupun terkadang macet, namun kemacetan di Surabaya biasanya hanya berada dibatas normal saja. Dengan kemacetan ini, saya hanya membayangkan jikalau di Jakarta harus mengalami kemacetan seperti ini setiap hari, maka Jakarta benar-benar kota yang sangat tidak menyenangkan.

Hujan rintik-rintik menemani saya melawan kemacetan ini. Belum lagi punggung yang membawa tas carrier yang terpontang panting kekiri dan kekanan mengikuti irama goyangan sepeda motor saya yang membuat punggung saya rasanya ditarik-tarik. Ditambah dengan sepeda motor yang saya tunggangi adalah sepeda motor berkopling, maka lengkaplah sudah, tangan kiri saya rasanya pegal sekali.

Setelah melalui perjuangan yang melelahkan, sekitar pukul 20 saya akhirnya tiba di terminal Bungurasih. Saya kemudian mencari tempat parkir untuk menitipkan sepeda motor saya. Dan saya pastikan tempat parkir itu buka 24 jam, untuk berjaga-jaga jikalau saya pada saat mengambil sepeda motor nanti datang tengah malam. Setelah sepeda motor terparkir dengan rapi, barulah saya menuju terminal. Dan seperti dugaan saya, melihat kemacetan tadi, suasana terminal juga sangat mirip mudik lebaran. Ramai tak terkira.

Saya yang biasanya pada saat mudik lebaran tidak pernah menggunakan jasa bis karena ketidaksukaan saya untuk berebut bis diterminal, kali ini ternyata harus mengalaminya malah tidak pada saat mudik lebaran. Sudah tidak memungkinkan lagi untuk menunggu bis diterminal keberangkatan. Orang yang menunggu disana sudah layaknya semut, berjubel sekali. Kalaupun ada bis yang datang, itupun sudah terisi penuh, karena orang-orang sudah naik ditempat parkir bis atau pada saat bis baru saja menurunkan penumpang. Saya pun karena tidak ingin berdiri sementara membawa carrier yang besar ini, berjalan terus menuju tempat parkir bis. Dan ternyata disanapun orang sudah banyak yang mengantri. Setiap ada bis yang datang, orang langsung berlompatan berebutan menuju pintu bis.

Saya sendiri belum memutuskan ingin naik bis apa. Untuk Surabaya – Purwokerto seharusnya ada bis yang langsung. Atau paling tidak bis jurusan Surabaya – Bandung seharusnya akan melewati Purwokerto, karena Purwokerto merupakan kota transit di yang menghubungkan berbagai kota di Jawa Tengah sana. Namun karena pertimbangan jumlah armada untuk trayek itu pastilah tidak begitu banyak, dan dengan banyaknya penumpang yang menunggu seperti saat ini, tentu jumlah kursi yang diperebutkan semakin tinggi. Oleh karena itu saya memutuskan untuk naik bis jurusan Surabaya – Yogyakarta saja.

Saya yang belum terbiasa dengan suasana ini harus mempelajari sejenak. Sumber Kencono pertama yang datang langsung direbut pelanggannya. Saya menemukan titik dimana bis akan mengurangi kecepatannya pada saat menikung, disanalah nanti saya putuskan untuk berebut naik. Karena jikalau menunggu bis berhenti, pintu sudah pasti dijejali calon penumpang. Saya menunggu bis kedua. Apapun bis itu, baik Sumber Kencono atau Mira, saya akan naik. Dan tidak berapa lama kemudian, Sumber Kencono kedua datang. Saya sudah berada diposisi yang saya rencanakan tadi. Walaupun ternyata banyak orang yang juga merencanakan hal yang sama. Ketika bis mengurangi kecepatannya, saya dan calon penumpang lain berlompatan menuju pintu. Saya hanya bisa meraih pegangan yang ada dipintu dan menempatkan satu kaki ditempat pijakan pintu karena pintu bis sekarang sudah dipenuhi orang. Saya harus berjuang ekstra karena tas dipunggung saya seakan menarik saya kebelakang. Begitu bis sudah berhenti, akhirnya saya bisa masuk. Dan untunglah tempat duduk paling belakang masih ada tersisa. Setelah saya menempatkan tas diatas kursi belakang, akhirnya saya bisa duduk dengan tenang.

Dan sekarang bis benar-benar penuh oleh penumpang. Jumlah penumpang yang berdiri sangat banyak sekali, hampir tidak menyisakan tempat untuk kondektur menarik karcis. Setelah membayar karcis, saya pun tertidur lelap. Angin dingin yang berhembus dari pintu belakang sudah tidak saya pedulikan lagi. Bis pun terus melaju. Saya terjaga ketika bis berhenti di teminal Ngawi. Kondektur mengumumkan bahwa bis akan berhenti sekitar setengah jam untuk mempersilakan penumpang yang ingin buang air ataupun ingin mencari makan.

Pukul 4.30 akhirnya saya menjejakkan kaki di bumi Yogyakarta. Tempat yang pertama saya tuju adalah toilet, karena saya sudah benar-benar kebelet sejak tadi. Setelah itu saya mencari musholla untuk menunaikan sholat Subuh. Mengingat keadaan masih pagi dan kemungkinan calon penumpang yang mengantri belum banyak, saya tidak ingin berlama-lama. Saya langsung mencari bis jurusan Purwokerto. Dan benarlah, jumlah penumpang dalam bis masih sedikit sehingga saya dengan leluasa memilih tempat. Sekitar pukul 5.15 bis pun meluncur.

Dalam perjalanan dari Wates menuju Purworejo, dari jendela saya melihat dengan jelas gunung Merapi dengan gagahnya berdiri menantang langit. Dan dibelakangnya juga tampak gunung Merbabu yang tidak mau kalah. Setelah semalaman harus duduk di bis dan kali ini juga harus duduk lagi, membuat pantat ini rasanya panas sekali. Sekitar pukul 10.45 saya akhirnya tiba di terminal Purwokerto.

terminal_purwo.jpgDiterminal Purwokerto ini keadaan ramai sekali. Ketika saya turun dari bis ini pun, para calon penumpang langsung berebut untuk naik. Tampaknya jika mereka menunggu diterminal keberangkatan bakal tidak dapat kursi. Para calo pun sibuk menanyakan tujuan setiap orang yang lalu lalang diterminal.

Kota Purwokerto ini adalah kota yang sangat strategis. Kota yang menghubungkan banyak kota. Kota ini menghubungkan Jakarta, Bandung, Jogja, Tegal, Semarang, Pemalang, Wonosobo, Temanggung, dll. Oleh karena itu saya menyebutnya kota transit. Jelas sudah mengapa terminalnya sangat ramai sekali. Bahasa disinipun juga sangat beragam. Orang setempat, termasuk yang dari tegal, kebumen berbicara dengan logat Banyumasan, ngapak-ngapaknya. Sedangkan orang dari jawa tengah dan timur lainya berbicara dengan logat jawa. Orang yang datang dari Jakarta berbicara dengan elu gue nya. Dan orang dari bandung dan sekitarnya berbicara dengan logat sundanya yang khas. Menyenangkan sekali duduk diterminal melihat berbagai macam orang.

Karena teman-teman saya yang dari Jakarta sepertinya baru datang sekitar pukul 3-4 sore, maka sisa waktu saya habiskan di masjid terminal. Banyak juga pendaki-pendaki lainnya yang saya temui disini. Rata-rata mereka juga akan mendaki Gunung Slamet, walaupun ada dua orang dari Bandung akan mendaki Gunung Merbabu dan Merapi.

bis_kecil.jpgTeman-teman yang saya nantikan akhirnya datang juga sekitar setengah empat sore. Setelah menunaikan sholat Ashar dan makan sesudahnya, karena takut kesorean dan tidak ada bis, kami langsung mencari bis jurusan pemalang. Dan untunglah ada bis terakhir yang belum berangkat. Ditemani mendung yang cukup pekat dan hujan rintik-rintik bis pun bergerak meninggalkan terminal Purwokerto. Kepada kondektur saya minta tolong untuk diingatkan jikalau sudah akan tiba dipertigaan Serayu, karena kami baru pertama kali kesini.

Sebelum Purbalingga kami melewati kota kecil Sokaraja yang terkenal dengan makanan khasnya yaitu gethuk goreng. Hampir semua toko yang menjual gethuk goreng yang saya lihat dari balik jendela bis bermerek ‘H. Tohirin’. Mungkin memang beliaulah pemrakarsa makanan ini. Saya sempatkan membeli ketika ada penjaja yang menjual makanan ini. Cukup dengan seribu rupiah saya sudah dapat menikmati gethuk goreng yang masih hangat ini. Dan rasanya benar-benar unik.

pertigaan_serayu.jpgSekitar setengah jam dari kota Purbalingga kondektur memperingatkan kami untuk bersiap-siap. Dan akhirnya kami tiba juga di pertigaan Serayu. Walaupun sudah Maghrib, karena ini musim pendakian, maka mobil-mobil carter tetap dengan setia menunggu pendaki yang ingin naik. Berhubung kami cuma berempat, maka kami harus menunggu pendaki lainnya mengingat kapasitas mobil mungkin cukup untuk 8-10 orang. Menurut keterangan mereka, jika pada musim pendakian dan malam telah larut, diteminal ataupun distasiun Purwokerto banyak sekali mobil carteran yang ngetem disana. Karena memang angkutan dari Purwokerto menuju pertigaan Serayu hanya sampai jam 5 sore. Jika jumlah rombongan cukup banyak maka harga carteran menjadi sangat terjangkau.

Pak sopir pemilik mobil carteran menawarkan dua opsi, jika kami ingin menunggu rombongan lainnya, satu orang hanya dikenakan biaya 15 ribu rupiah. Namun jika kami ingin berangkat sekarang maka perorangnya dikenakan biaya 25 ribu rupiah. Karena kami tidak yakin bakal ada rombongan berikutnya kami putuskan untuk naik langsung saja. Dengan kecepatan naik yang luar bisa, tampaknya sopir benar-benar sudah sangat lihai dilintasan menanjak ini, sekitar 40 menit kemudian kami tiba di dusun Bambangan. Udara khas pegunungan mulai terasa. Membuat kami benar tak sabar menunggu esok hari.

Surabaya – Yogyakarta
# Bis Sumber Kencana : Rp 42.000,-
# Waktu perjalanan : 8 jam
Yogyakarta – Purwokerto
# Bis Baker : Rp. 23.000,-
# Waktu perjalanan : 4 jam 30 menit
Purwokerto – Pertigaan Serayu
# Bis Lestari (jur. Purwokerto – Pemalang) : Rp. 6.000,-
# Waktu perjalanan : 1 jam
Pertigaan serayu – Dusun Bambangan
# Carter (carry) : Rp. 25.000,- / orang (harga tergantung kondisi)
# Waktu perjalanan : 45 menit

  1. afit
    January 24, 2009 at 2:46 am

    matur suwun sanget kulo cak!!
    aku emang rencana kesana ma kawan2, n bingung klo transport yg langsung k PWT naeknya…dengan info dari anda sangat mbantu bwt gambaran besok, n yg terpenting tau harganya meskipun mungkin akan ada perbedaan karana udah hampir 1 tahun yach…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: