Home > Mounteneering > Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 2 (pendakian)

Catatan Pendakian Gn. Slamet (3428 mdpl), part 2 (pendakian)

Jumat, 21 Maret 2008, 06:00

Di dusun Bambangan ini sebenarnya terdapat base camp resmi pendakian yang terletak di akhir dari jalan aspal sebelah kanan jalan menjelang masuk gapura pendakian, namun kebanyakan pendaki sepertinya lebih menyukai untuk ber-base camp dirumah ibu Muheri, yang sudah dijadikan base camp oleh para pendaki sejak dahulu. Selain hangatnya karpet masih bisa kita rasakan disini, yang membuat kita serasa dirumah, keramahtamahan seluruh keluarga pemilik rumah membuat kita serasa menjadi tamu agung. Pemilik rumah terus menyuguhkan air hangat untuk para pendaki dan menyambut dengan senyumnya yang ramah ketika ada pendaki yang baru sampai.

Jika perut terasa lapar, atau jika ingin mengisi energi menjelang pendakian, kita juga bisa memesan makanan kepada pemilik rumah. Nasi hangat, sayur dan telur atau ayam benar-benar menggugah selera, mengingat setelah ini harus makan ala kadarnya ketika sudah berada dihutan. Ditoko Ibu Muheri juga menyediakan beberapa kebutuhan untuk kebutuhan pendakian, seperti air mineral, mie, sarung tangan, kerpus, dll. Dan yang paling menarik adalah disini juga menjual gantungan kunci, stiker, emblem, kaos (jika persedian ada) yang menggambarkan tentang pendakian Slamet yang bisa kita buat untuk kenang-kenangan. Saya pun sudah berencana akan memborongnya nanti ketika sudah turun gunung. Dan jangan lupa untuk melakukan proses registrasi pendakian, dengan menulis nama dan keterangan lainnya dan membayar Rp. 3.500 per orang.

slamet-from-bambangan.jpgSetelah tidur malam cukup pulas, dan perut pun sudah terisi penuh, rombongan saya siap untuk memulai pendakian. Hari cukup cerah. Dan dari luar rumah, puncak Slamet yang berwarna merah akibat tersinari mentari pagi berdiri gagah serasa memanggil kami, yang membuat kaki tak sabar untuk melangkah lagi. Sebelum pendakian teman saya mencatat nomer telepon base camp terlebih dahulu, sebagai jaga-jaga seandainya saja nanti digunung kami memerlukan bantuan. Dan dijaman seperti sekarang, tidak usah khawatir, walaupun lemah dan hilang timbul, namun sampai puncak pun sinyal masih dapat kita nikmati. Bismillah, tepat pada pukul 7.30 rombongan kami berangkat memulai pendakian. Pendakian Slamet melalui jalur Bambangan ini, saya menyebutnya adalah jalur ‘to the point’. Kita tidak perlu naik turun bukit. Kita akan dihadapkan langsung dengan kaki gunung Slamet, yang itu berarti jalur akan terus menanjak dan trek bonus bisa dikatakan sangat jarang sekali. Dan sepanjang pendakian puncak Slamet akan terus tampak didepan mata, kecuali jika berada didalam hutan.

gerbang.jpgSepuluh menit pertama kami berjalan menyusuri jalan berasal yang berada diantara rumah-rumah warga hingga tiba digapura pendakian. Gapura pendakian ini berada dipenghabisan jalan beraspal. Setelah memasuki gapura, jalan akan bercabang. Ambil jalan yang kekanan. Jalan yang kekiri adalah jalan menuju ladang penduduk. Kami terus berjalan menyusuri ladang penduduk dengan sungai yang mengalir cukup deras berada disebelah kiri jalur pendakian. Sekitar 15 menit kemudian terdapat papan keterangan milik Perhutani dan dibawahnya terdapat bak sampah besar, itu berarti kami telah tiba di shelter lapangan. Disebut shelter lapangan karena dibelakang bak sampah tersebut terhampar lapangan rumput yang cukup luas, yang jika anda kurang kerjaan bisa menyempatkan bermain sepak bola terlebih dahulu. Disudut lain juga tampak air terjun kecil yang cukup indah. Dan sepertinya shelter lapangan ini tidak begitu istimewa, tapi ternyata – dari istilah buku komik detektif – memainkan trik psikologis yang cukup indah. Yang membuat pendaki yang baru pertama kali mendaki gunung Slamet lewat jalur Bambangan seperti kami ini, menghabiskan 2 jam mondar-mandir ketika turun gunung nanti. Tapi tenang, seperti kata saya tadi ini hanya permainan psikologis, tidak terlalu berbahaya.

sketsa.jpgIni adalah denah jalur sederhana yang bisa saya buat. Denah ini saya buat berdasarkan kesimpulan saya. Dan jika ada yang hendak mengoreksi, monggo silakan. Sudah menjadi naluri, apalagi untuk pendakian pertama, pendaki akan mengambil jalan yang paling masuk akal jika terdapat percabangan. Masuk akal disini bisa mengambil jalan yang menanjak, atau jalan yang paling sering dilalui, atau jalan yang setipe dengan jalan yang sebelumnya, dan lain-lain. Apalagi jika percabangannnya tidak tampak, maka dengan santai kita akan melangkah terus. Nah, ketika kami melewati shelter lapangan ini, jelas kami dengan santai melangkah terus melewati jalur II, karena memang tidak tampak percabangan didaerah ini, lagipula jalan setapaknya sangat jelas berbelok mengarah ke jalur II. Dan memang seakan-akan tidak ada yang terjadi karena jalur ini memang mengarah kearah yang benar, yaitu jalur menuju puncak. Permasalahannya muncul ketika nanti kami turun gunung. Ketika turun gunung, pendaki akan digiring ke jalur I, karena meskipun tampak percabangan namun jalur dari atas menyatu dengan jalur yang berbelok ke jalur I. Untuk yang menuju jalur II, tampak seperti jalur yang lebih jarang dilalui. Kebingungan mulai muncul ketika jalur ini tepat menyatu dengan pinggiran sungai. Padahal kami yakin sekali pada saat naik tidak pernah melalui jalur ini. Inilah yang membuat kami naik turun tidak karuan untuk mencari jalur yang benar. Dan jikalau tidak bertemu dengan pendaki yang sudah paham betul jalur ini, maka bisa sampai malam kami mondar-mandir. Percabangan disisi atas inilah yang disebut pos Payung. Karena sebelumnya disini terdapat shelter berbentuk payung. Namun pada saat sekarang sudah tidak ada lagi, entah digerus oleh alam atau ada pihak yang tidak bertanggung jawab mengambilnya. Dan menurut orang yang sudah berpengalam di jalur ini, jalur I adalah jalur yang jauh lebih pendek dibanding jalur II, jalur II lebih memutar, dan lintasannya pun relatif lebih tidak licin. Jadi, mau pilih yang mana, terserah saja. Anehnya, sepertinya masih ada satu jalur lagi, karena ketika saya turun lewat jalur II saya merasa ada bagian yang hilang, karena pada saat naik lewat jalur II kami mendapati pondok ladang warga yang pada saat turun kami tidak mendapatinya. Tapi saya tidak tahu apakah itu benar atau tidak, dan kalaupun benar dimanakah percabangannnya saya juga tidak tahu. Tapi tenang saja, sepertinya semua jalur tetap menuju tujuan yang tepat. Seperti pepatah, banyak jalan menuju puncak J

Kembali ke perjalanan menuju puncak. Selepas Pos Payung ini jalan terus menanjak dan masih terbuka lebar. Dengan terkadang masih didapati ladang penduduk dikanan kiri jalur. Setengah jam berlalu akhirnya ‘peradaban’ mulai berganti, kami mulai memasuki hutan tropis. Seperti biasa, perjalanan didalam hutan tropis ini cukup rindang dengan aroma pepohanan yang khas. Pohon-pohon besar berdiri kokoh terbentang disepanjang perjalanan. Menurut literatur yang kami baca, sekitar 2 jam perjalanan setelah Pos Payung seharusnya kami akan mendapati pos II, Pondok Walang. Namun entah karena tidak ada plakat atau ada plakat namun kami tidak melihatnya, 2 jam berlalu tanpa tahu kami sudah melewati pos 2 atau belum. Nama Pondok Walang diambil dari bentuk cabang pohon yang ada di tempat itu yang menyerupai bentuk belalang. Namun menurut beberapa pendapat lain nama Pondok Walang diambil karena ditempat ini terdapat pohon yang penduduk setempak menamainya Pohon Walang. Dipondok Walang ini sudah tidak terdapat lagi pondok yang katanya sudah hancur, sehingga tanpa plakat kami yang baru pertama kali mendaki Slamet ini tidak akan pernah tahu letaknya.

pintu-gerbang-u.jpgTidak berapa lama kemudian, kami tiba di akar-akaran dua batang pohon yang setinggi satu meter lebih, yang orang-orang menyebutnya adalah ‘pintu gerbang’. Dahulu mungkin untuk berjalan terus pendaki harus memanjat akar pohon ini. Namun sekarang disamping pohon ini sudah terdapat jalan, sehingga pendaki tidak perlu memanjat lagi. Karena saya ingin mendapatkan kesan, maka walaupun lebih susah, saya merelakan diri untuk memanjat pohon ini. Dengan sampainya kami dipintu gerbang ini maka itu berarti kami telah melewati pos II tanpa kami sadari. Karena letak ‘pintu gerbang’ ini diantara pos II dan pos III.

pondok-cemara.jpgSekitar setengah jam kemudian kami tiba di pos III, Pondok Cemara. Jangan tertipu dengan kata-kata pondok dan cemara. Karena ditempat ini tidak ada pondok dan juga tidak ada cemaranya. Di pos III ini ada plakatnya, sehingga kami tahu. Kami sempatkan berfoto sebentar. Kemudian kami langsung tancap gas melanjutkan perjalanan. Dan kurang lebih setengah jam kami tiba di pos IV, Samyang Samarantu. Plakat pos IV ini terletak dibatang pohon yang melintang. Dan menurut penduduk setempak tempat ini baru saja terbakar. Pantas saja pohon-pohon di pos ini menghitam.

pondok-rangkah.jpgDengan tibanya kami di pos IV maka tidak berapa lama lagi, sekitar setengah jam, dengan meneruskan perjalanan maka kami akan tiba ditempat paling favorit untuk camp, yaitu Pos V, Samyang Rangkah. Kenapa favorit, karena tempat ini dekat dengan mata air. Di pos V ini terdapat pondok yang cukup luas, yang sanggup menampung puluhan orang. Dan karena kami cukup malas untuk membuka tenda, maka kami putuskan untuk bermalam didalam pondok. Sebenarnya pada awalnya kami berniat untuk camp ditempat yang lebih tinggi untuk meminimalisasi waktu untuk summit attack. Di Samyang Rangkah ini awalnya kami hanya berniat untuk masak-masak untuk makan saja. Namun karena tidak berapa lama setelah kami tiba di pos ini hujan lebat turun, maka memang lebih bijaksana untuk camp ditempat ini saja, dengan konsekwensi bangun lebih pagi untuk menuju puncak.

Setelah tidur tidak begitu pulas karena harus berdesak-desak dengan puluhan pendaki lainnya dan setelah makan cukup kenyang, tepat pukul 2.15 dini hari kami berangkat untuk menggapai sunrise dipuncak. Kami spare waktu cukup banyak dengan pertimbangan lebih baik kedinginan dipuncak daripada telat melihat sunrise. Maklum kami, terutama saya, terobsesi sekali dengan sunrise dipuncak. Tas kami tinggal didalam pondok. Kami hanya membawa makanan dan minuman secukupnya, serta mantel untuk berjaga-jaga jikalau hujan turun lagi.

Selepas pos V ini, tanjakan lebih kejam lagi. Tak terbayang jikalau kami harus membawa tas carrier kami. Namun bulan purnama yang cukup indah menemani perjalanan kami, membuat kami hanya terkadang menyalakan senter kami. Empat puluh lima menit kemudian kami tiba di pos VI, Samyang Jampang.

Dua puluh menit dari pos VI kami tiba dipos VII, Samyang Ketebonan. Di pos ini terdapat pondok seluas dan semirip dengan pondok yang ada di pos V. Pendaki yang ingin meminimalisasi waktu untuk menuju puncak biasanya camp ditempat ini.

Perjalanan kami teruskan hingga melewati Pos VII, Samyang Kendit dan terus hingga Plawangan. Kami tiba di plawangan sekitar pukul 4. Seperti gunung-gunung yang lain, plawangan berarti batas vegetasi. Diatas plawangan sudah tidak terdapat pepohonan lagi.

downhill2.jpgTrek selanjutnya adalah trek kerikil. Daerah ini disebut kawasan batu merah. Karena memang jikalau hari sudah terang, maka akan tampak jelas bahwa kawasan ini memang merah karena batuannya. Banyaknya kerikil-kerikil yang membuat kami merosot, maka secara naluriah kami tentu mencari batu yang cukup besar sebagai pijakan kami. Namun tidak semua batu besar tersebut kokoh menancap ketanah cukup dalam. Sehingga terkadang batu yang kami injak jatuh kebawah. Oleh karena itu, perlu diwaspadai, jikalau anda salah menginjak batu dan batu tersebut jatuh, maka sangat berbahaya bagi orang yang ada dibawah anda. Cukup untuk membuat kepala pecah dan jatuh terpelanting kebawah jika batu cukup besar. Jikalau memang batu yang jatuh, sebaiknya anda berteriak, “Awas batu!” untuk memperingatkan orang dibawah anda. Trek ini memakan waktu kurang lebih 1 jam hingga tiba benteng.

Benteng merupakan batuan besar memanjang menyerupai benteng pertahanan. Untuk menuju puncak maka kami berjalan kearah kanan sekitar 5 menit. Tepat pukul 5.15 kami tiba di puncak. Ufuk sudah mulai kemerah-merah yang membuat kami tidak sabar untuk berfoto-foto. Namun sebelum itu kami harus menunaikan kewajiban kami, yaitu sholat Subuh. Dan tak lupa kami mengucapkan syukur tak terkira atas kesempatan yang diberikan kepada kami untuk menikmati keindahan alam yang tak terkira ini. Setelah itu kami menghabiskan waktu untuk bergaya didepan kamera menyambut mentari pagi. Dibelakang kami, kawah Slamet terus mengepul. Dan dilautan pasir kawahnya tampak batu-batu tersusun yang menyebutkan nama-nama pendaki yang ingin meninggalkan kenangan-kenangan. Dari puncak ini tampak laut Jawa disebelah utara dan samudra Hindia disebelah selatan. Gunung Ciremai pun berdiri kokoh menembus awan disebelah barat laut. Dan yang jelas sangat indah adalah sunrise yang terlihat dibelakang jejeran gunung Sundoro, Sumbing, Merbabu dan Merapi.

puncak.jpg

  • Base camp Bambangan – Pos Payung : 1 jam
  • Pos Payung – Pintu Gerbang : 2 jam 45 menit
  • Pintu Gerbang – Pondok Cemara : 30 menit
  • Pondok Cemara – Samyang Samarantu : 30 menit
  • Samyang Samarantu – Samyang Rangkah : 30 menit
  • Samyang Rangkah – Samyang Jampang : 45 menit
  • Samyang Jampang – Samyang Ketebonan : 20 menit
  • Samyang Ketebonan – Plawangan : 40 menit
  • Plawangan – Benteng : 1 jam
  • Benteng –Puncak : 5 menit
  • Total perjalanan : 8 jam 5 menit
  1. Sri Mulyati
    November 29, 2008 at 10:43 pm

    OOOh Gunung slamet q kngenn bgt sm Purbalingga,q pengin plang dr JKT.q PNGIN bgt Naik gnung slamet Lg Nich,

  2. Sri Mulyati
    November 29, 2008 at 11:03 pm

    Saya adlh slah satu anak Pecinta Aam yaitu dr Aruna Pala yang berasal dr skolah SMA N 1 Kutasari,Purbalingga.saya sangat senang krn sudah prnh naik gunung selamet yaitu gunung tertinggi di jawa tengah.
    Hal Ini adlah pengalaman yang paling terkesan bwat saya.Pokoknya aku adlh Pecinta ALAM yang setia yang akan mencintai&menjaga alam dengan baik.Dah dlu yaaaaa…Wasalam

  3. ijal mahameru
    January 20, 2009 at 6:26 pm

    kapan aku bisa naik slamet lagiiiiiiiiii
    indahnya slamet tak tergantikan

  4. adjiee
    March 15, 2009 at 5:08 pm

    kapan kita bareng2 ngumpul lagi….? tinggalkan sejenak kepengatan jiwakita saudara2kyu…? salam lestari

  5. nasehatguru
    April 25, 2009 at 1:54 pm

    hati-hati mas naik G. Slamet pada sekitar th 1985 teman saya hilang.

    • panghalusnya
      April 29, 2009 at 5:46 am

      Di setiap aktivitas kita apapun tetep hati2 kok mas. Semua sudah ada masanya. Lha wong dirumah aja kalo emang sudah saatnya yo bisa kena musibah kok🙂

  6. Eko Sambas
    September 14, 2009 at 7:56 am

    Kenangan buruk, tahun 1983 kami rombongan sman 2 purwokerto terjebak api, tp asyik dan bikin kangen

    • panghalusnya
      September 14, 2009 at 8:40 am

      Wah pas ada kebakaran hutan ya. Betewe tahun 1983 sudah naik gunung, saya barusan lahir tuh hehehe

  7. OUXTHA
    September 27, 2009 at 2:40 pm

    GW ANAK PURBALINGGA ASLI,GW BANGGA JD ANK LERENG GUNUNG SLAMET

  8. herru wijayadie
    October 6, 2011 at 1:28 am

    Insyaallah tgl 28 oktober 2011, saya dan rekan rekan, mandiri syariah adventure jakarta, akan mendaki gn slamet.

    Mohon doa dari sahabat semua yaa.
    🙂

  9. tony d
    October 7, 2011 at 11:13 pm

    Berguru pada alam

    dach ga sabar nunggu tanggal 28

  10. dwi astuti
    December 20, 2011 at 2:49 pm

    seingat aku pos II itu pos lawang, bukan walang ya…hehehe
    jadi kangen muncak slamet lg

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: