Home > Mounteneering > Ketika Nyawa di Ujung Tanduk

Ketika Nyawa di Ujung Tanduk

 

Hari itu, hari Sabtu, 7 Juni 2008, cuaca dikota Boyolali cukup cerah. Kami berempat berkumpul diterminal kota ini sekali lagi. Sebelumnya, setahun yang lalu, kami pernah berada ditempat ini ketika sehabis turun gunung Merbabu. Dan kali ini kami berkumpul disini tetap dengan semangat cinta alam kami yaitu untuk menggapai puncak salah satu gunung terpanas dimuka bumi ini, yaitu puncak gunung Merapi. Gunung yang walaupun hanya dengan ketinggian dibawah 3000 mdpl namun cukup terkenal diseantero Indonesia, atau bahkan dunia. Karena gunung ini merupakan salah satu gunung teraktif didunia.

Berbeda dengan pendakian kami sebelumnya, pendakian kali ini bisa dibilang cukup mendadak. Biasanya kami merencanakan suatu pendakian hampir satu atau dua bulan sebelumnya, dan kali ini hanya dalam hitungan hari. Tidak pernah terpikir kami akan menuju kesini, karena memang kami merencakan pendakian berikutnya adalah gunung Sundoro. Namun begitulah kehidupan, tidak selalu yang direncanakan terjadi dan tidak selalu yang tidak direncanakan tidak terjadi.

Bis kecil dari Boyolali menuju Cepogo yang kami tumpangi cukup sesak dengan anak sekolah yang sedang pulang. Namun karena kami duduk dideretan bangku paling belakang kami masih cukup leluasa untuk menikmati pemandangan yang cukup indah, yaitu gunung Merbabu disebelah kanan dan gunung Merapi disebelah kiri yang menjulang dengan gagahnya. Bis berikutnya membawa kami ke kota Selo setelah sebelumnya kami berpindah bis. Kota kecil yang cukup damai dibawah kaki gunung Merapi dan Merbabu ini cukup terkenal, karena kota ini dilewati oleh rombongan balap sepeda ‘tour de jatim’. Hal inilah yang menyebabkan jalanan cukup mulus sepanjang perjalanan ke Selo.

Turun dari bis, pendakianpun dimulai. Tidak ada kata landai untuk pendakian Merapi ini. Jalanan yang masih beraspal menuju desa Lencoh ini sudah menunjukkan kemiringannya. Hingga masuk hutan jalanan terus menanjak dan menanjak. Namun karakter kami berempat adalah sama, kami menyukai trek semacam ini asalkan cepat sampai daripada trek yang landai namun menghabiskan banyak waktu. Dan yang membuat penat dikaki kami dan nafas yang tersengal-sengal terlupakan adalah pemandangan gunung Merabu dibelakang kami yang sangat indah. Inilah nyamannya trek pendakian yang berada dipunggungan gunung, yang membuat segalanya terbuka sehingga tidak membosankan. Pendakian bisa dibilang cukup lancar.

Kami bermalam di Pos II, untuk bercengkrama sambil mengisi perut dan melihat gemerlap lampu kota Boyolali yang cukup indah. Dan panglima kami, Mantos, yang sehari sebelumnya berulang tahun menyalakan lilin yang bertuliskan huruf dua dan lima. Merayakan jomblo perak digunung katanya.

Jam dua dini hari kami melanjutkan perjalanan menuju puncak, mengejar sunrise. Batuan-batuan yang cukup labil setelah Pos Pasar Bubrah mengiringi perjalanan kami. Harus ekstra hati-hati. Berhati-hati agar tidak tergelincir dan juga berhati-hati agar tidak menjatuhkan batu yang dapat menghantam teman dibelakang. Dan tidak kalah penting adalah berhati-hati untuk tidak tersesat. Karena kami memang sekelompok orang yang mendaki tanpa tahu jalan, hanya mengandalkan insting dan literature jika memang tidak ada orang yang bisa ditanya.

Tepat fajar masih sedikit mengintip kami tiba dipuncak merapi. Kami laksanakan sholat Subuh disana untuk mensyukuri nikmat yang diberikan kepada kami. Dan setelah itu, jelas kami berfoto dengan segala pose untuk merayakan kegembiraan kami sebagai kenang-kenangan kelak.

Dan tiba saatnya kami untuk turun gunung. Kami sejak awal memutuskan untuk turun melalui jalur Kaliurang. Karena selain kami memang ingin mampir ke Jogja untuk jalan-jalan dan makan-makan, dijalur Kaliurang ini kami berniat untuk sowan kerumah Mbah Maridjan, juru kunci gunung Merapi. Cerita bermulai disini.

Kami cukup kebingungan menentukan arah turun yang menuju jalur Kaliurang. Dan berdasarkan satu literature yang sempat dibawa (seharusnya tidak boleh bertumpu pada hanya satu literature) karena memang pendakian ini minim persiapan, kami harus menuju tempat yang ada pemancarnya. Dan tepat diarah selatan tempat memang tujuan kami turun, saya melihat ada pemancar. Namun untuk menuju kesana sepertinya sedikit berat karena memang untuk menuju kesana asap belerang tebal menutupi, sehingga kami mutuskan tidak mungkin. Dan Mantos melihat disisi sebelah barat juga ada pemancar kecil dan untuk menuju kesana sepertinya lebih masuk akal. Mungkin kami harus ke barat dahulu kemudian jalur akan menuju keselatan, begitulah pikiran kami. Kami putuskan untuk berangkat kesana.

Sebenarnya dipuncak juga terdapat rombongan lain, yang jika kami bertanya kepada mereka mungkin mereka akan tahu. Namun sepertinya kesombongan sudah ada didalam kepala kami, sehingga kami pun tidak bertanya.

Selepas pemancar jalur semakin tampak mengerikan, dan anehnya tetep menuju ke barat. Mengerikan karena hampir semua batuan labil, tidak kuat menahan pijakan kaki kami. Dan dengan kemiringan yang hampir 70 derajat ini, sedikit saja kami tergelincir hampir dipastikan jasad kami akan tidak berwujud dibawah sana. Kami harus merangkak pelan-pelan. Setiap orang pun harus berhati-hati untuk tidak menjatuhkan batu sekecil apapun. Karena jika sekecil apapun batu yang dijatuhkan dan menghantam kepala teman yang dibawah, sangat fatal akibatnya. Nun jauh bawah sana tampak seperti sungai yang cukup besar yang merupakan jalur lintasan lahar cukup banyak terbentang meliuk liuk. Dan sebelum itu terlihat lautan pasir yang membentang luas. Mungkin itulah tujuan kami. Setelah itu tiba dilautan pasir kami akan menuju keselatan. Demikianlah hasil kesimpulan kami.

Bagaikan fatamorgana. Sejauh ini kami menuruni tebing ganas ini, lautan pasir tidak tampak semakin dekat. Dan semakin kami turun semakin semakin mengerikan pemandangannya. Bagaikan orang yang berada dipuncak gedung berlantai 100 melihat kebawah. Dan semakin lama kami harus turun satu persatu, karena hampir dipastikan setiap pijakan kami selalu akan ada batu yang jatuh. Kami turun satu persatu karena tidak ingin mencelakai teman dibawah kami.

Malapetaka bertambah lagi ketika salah satu teman kami, Edo, memisahkan diri. Edo memang terkenal suka mencari jalan sendiri yang menurutnya lebih mudah. Namun saya yakin dibenaknya juga tidak ingin berpisah dengan teman-temannya. Namun karena sepertinya lautan pasir tampak semakin dekat, apapun arah turunnya pasti akan bertemu disana. Karena Edo tidak membalas panggilan kami, yang mungkin karena headset yang tertancap ditelingannya, kami menempuh jalan masing-masing. Kami bertiga dan Edo sendirian.

Dan itu semua memang fatamorgana. Kami memang salah jalan sejak awal. Memang ada lautan pasir, namun itu bukan dataran melainkan jalur pasir yang tetap miring, yang dibawah telah menganga jurang. Dan jika kami berpaling melihat kebelakang, disana tampak batu-batuan menjulang tidak karuan, yang dengan gempa sedikit saja, pasti akan jatuh menghantam kami. Dan ternyata kami berada di jalur lintasan lahar.

Tampak disebelah kami ada semacam pasir putih seperti gamping, yang sepertinya itu adalah bekas lahar dingin. Tidak ada jalan bagi kami. Kami bagaikan orang yang ski meluncur turun menyusuri jalur pasir ini. Hingga kami terhenti tepat dibibir jurang, yang jika saya tidak diselamatkan oleh Mantos dan Purwo, maka tamatlah riwayat saya jatuh kedalam jurang. Dead end. Jalan Buntu. Kami tidak mungkin naik kembali. Karena kami berhadapan dengan pasir disana sini yang tidak memungkin kami untuk naik selangkahpun. Jikalau kami berhasil naik kembali dari jalur pasir ini, kami juga tidak akan mungkin kembali ke puncak mengingat kami tebing yang kami turuni tadi sangat tidak memungkinkan untuk didaki. Terlebih lagi kami sudah 4 jam berlalu semenjak dari puncak tadi pagi. Untuk turun, sangat tidak memungkinkan untuk menuruni tebing ini. Pikiran kami juga terpecah pada Edo yang sendirian. Apakah dia masih selamat. Mengingat trek yang kami bertiga lalu semenjak berpisah tadi sangat tidak manusiawi. Kamipun mencoba untuk berpikir jernih. Kami tahu kami memang ternyata salah jalan sejak awal. Dan kami sekarang berada dijalur lahar. Kami tidak mungkin kembali. Kami putuskan untuk maju. Jalur lahar seharusnya berakhir disungai, disana tentu ada kehidupan.

Kami mencoba mencari jalan untuk menuruni jurang ini. Yang jurang ini tak lain tak bukan adalah jalur lintasan lahar itu sendiri. Dan kami harus mengorbankan tas carrier kami untuk dilemparkan terlebih dahulu. Karena kami jelas tidak mungkin menggendong tas carrier sementara kami beraksi layaknya seorang pemanjat tebing professional. Jalur lahar ini terus menurun dan menurun. Sehingga ketika kami berhasil melewati satu jurang maka kami akan bersiap menghadapi jurang berikutnya. Dan tetap seperti sebelumnya, tas carrier kami lemparkan terlebih dahulu. Berada dijalur lahar ini mungkin seperti berada didalam kandang harimau, setiap saat siap celaka. Jikalau kami selamat dalam menuruni satu jurang, itu belum berarti aman. Karena tebing dikanan kiri kami sangat rawan sekali longsor. Setiap ada angin yang berhembus, batu-batuan berjatuhan dari atas kepala kami dan pasir longsor yang siap menimbun kami hidup-hidup.

Melihat bahaya yang ada disekitar kami, mungkin kami memang masih baik-baik saja, namun kemungkinan kami untuk keluar dari sini sangat kecil sekali. Dan jikalau kami memang mati disini, maka mayat kami tidak akan pernah ditemukan.

Kesalahan kami lengkap karena selain tidak tahu jalur namun sok tahu dan akhirnya berada dijalur lahar yang mematikan ini, kami juga tidak ijin pada pihak yang berwajib waktu pendakian kemarin. Belum lagi kami berempat naik gunung ini tanpa memberitahu keluarga dirumah, karena jelas tidak akan mendapat restu. Dan kondisi kami sekarang pun ada teman yang terpisah. Komplit sudah. Walaupun masih ada hape yang walaupun baterainya hampir habis dan sinyalnya pun hilang timbul, namun kami sedikit ciut untuk meminta tim penyelamat untuk menyelamatkan kami. Sepertinya kami akan tewas dengan mengenaskan disini.

Saat ini dipikiran kami bertiga adalah kami harus keluar dari jalur lahar ini sebelum malam tiba. Karena selain tidak mungkin untuk merapayap turun diganasnya tebing dan jurang dimalam hari, ketika malam hari angin biasanya bertiup lebih kencang. Dan ketika angin berhembus kencang maka batu-batuan dan pasir jelas akan longsor lebih dahsyat dan jelas itu akan membuat kami terkubur hidup-hidup. Oleh karena itu kami terus mempercepat langkah kami. Sesekali kami mengangkat tas carrier kami dikepala untuk menghindari hantaman batu yang longsor dari atas.

Dan sedikit titik cerah muncul. Kami melihat tebing dikanan kami diatasnya sudah ditumbuhi pepohonan, itu berarti ada hutan diatas sana. Jauh lebih baik berada didalam hutan yang tidak jelas daripada berada dibawah jurang ini. Kamipun berputar sedikit untuk mencari tempat yang memungkinkan kami untuk memanjat tebing itu.

Akhirnya kamipun berada didalam hutan. Kami bisa sedikit lega. Sepertinya Tuhan menunjukkan jalan kepada kami, mengabulkan doa kami yang terus kami panjatkan disetiap langkah kami didalam jalur lahar tadi. Kami seperti diberikan tambahan umur untuk hidup.

Tidak ingin berlama-lama, kamipun babat alas menembus hutan yang tidak jelas. Tujuan kami adalah turun gunung, entah menuju kemanapun. Kalaupun memang tidak sampai-sampai kami tidak keberatan untuk bermalam dihutan. Keadaan ini jauh lebih baik daripada di jalur lahar tadi, jalur kematian.

Dan ternyata Tuhan memberikan lebih, kami menemukan jalur disini. Yang itu berarti pernah ada manusia melintasi jalur ini dan jalur ini jelas menuju suatu tempat dibawah sana. Tidak ada kebahagiaan yang melebihi kebahagiaan kami saat itu. Segala sakit, luka bedarah, capek, hilang saat itu. Hanya satu yang mengganjal dihati kami bertiga, adalah kekhatiran kami pada teman kami Edo. Disaat kami telah menemukan titik cerah disini apakah dia juga masih selamat.

Kami melangkah cepat turun gunung menyusuri jalur itu. Dan dua jam perjalanan turun itu, tepat pukul 5 sore akhirnya kami sampai disuatu tempat yang merupakan pos pengamatan gunung Merapi, pos Babadan. Dan disana telah menanti teman kami Edo yang ternyata telah sampai lebih dahulu, yang memiliki cerita heriok meregang nyawa sendirian disaat persediaan air ditasnya telah habis dan kakinya terkilir. Kami yang menganggap Edo akan terus menuju selatan, ternyata juga menuju arah yang sama dengan kami, walaupun berada didalam jalur lahar yang berbeda. Akhirnya kami dapat pulang dengan full team. Tuhan ternyata memberikan akhir yang happy ending.

Dan tahukah, ternyata jalur Kaliurang yang merupakan tujuan kami telah terputus sejak sebulan sebelumnya disebabkan karena longsor. Dan seandainya saja kami benar menuju kesana, maka itu akan benar-benar tidak akan ada jalan pulang bagi kami selain berbalik kembali kepuncak, dan itu jika kami tetep bisa menemukan jalan untuk menuju puncak kembali. Tuhan memberikan banyak pelajaran berharga bagi kami, yaitu arti dari sebuah kebersamaan, arti dari sebuah persiapan, dan akibat dari kesombongan. Walaupun disisi yang lain Tuhan sedang menyelamatkan kami dari bahaya yang lebih berat.

cerita dari Edo bisa dibaca disini.

cerita dari Mantos bisa dibaca disini.

Categories: Mounteneering Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. December 29, 2009 at 3:09 pm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: