Home > Matematika, Renungan, Tahukah Anda > Kiblat, antara simbolisme dan keakuratan

Kiblat, antara simbolisme dan keakuratan

Akhir-akhir ini berita yang satu ini marak sekali dibicarakan. Yaitu tentang fatwa MUI yang intinya menyatakan bahwa arah kiblat yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia memerlukan pembetulan atau pergeseran arah agar lebih tepat mengarah ke Ka’bah (Baitullah). Saya sendiri kurang mengikuti detailnya seperti apa karena saya merasa tema ini sangat dibesar-besarkan (entah MUI/ulama-ulama sendiri yang membesar-besarkan atau pers saja yang membuat berita ini menjadi booming) yang membuat saya menjadi malas dan tidak tertarik untuk mengikutinya. Saya tidak menafikan orang yang ingin membuat perbaikan, saya setuju sekali adanya perbaikan, namun bagi saya untuk soal kiblat itu hanya merupakan simbolisme. Kita memang berusaha untuk tepat menghadap kiblat (Ka’bah), namun soal keakuratannya tidak usah dijadikan bahan perbincangan yang terlalu berlebihan. Mengapa demikian? Alasannya akan saya kemukakan melalui paparan dibawah ini. Namun sebelumnya saya ingin memperjelas bahwa ini semua adalah murni pendapat saya pribadi, dan saya memaparkan dengan pendekatan sains dan logika, secara saya orang yang tidak tinggi ilmu agamanya.

Barat vs Barat laut.

Kata-kata inilah yang sering saya dengar kalau sekilas mendengar berita tentang perubahan arah kiblat ini. “Dirubah dari arah barat menjadi barat laut”. Entah ini kalimat fatwa atau hanya kalimat pengembangan dari fatwa, saya kurang tahu (karena memang tidak menyimak detail). Tapi yang jelas, saya hampir selalu mendengar kata-kata ini jika sekilas mendengar berita tersebut.

Memang orang-orang disekitar tempat saya, dan mungkin untuk orang Jawa kebanyakan (tidak tahu untuk yang luar Jawa), khususnya orang tua, mengidentikkan kiblat dengan barat. Jika orang tersebut bertanya ‘kulon e endi‘ (baratnya mana), itu sama saja bertanya ‘kiblatnya mana’.  Bahkan nanti ketika mereka berada di Madinah, mereka tetap akan bertanya ‘baratnya mana’ untuk menanyakan kiblat, padahal Ka’bah berada di selatan mereka. Atau menganggap arah kiblat yang mereka hadapi itu adalah arah barat (padahal selatan). Tentu saja mereka akan bingung arah ketika berada di Masjidil Haram, masa’ semua arah dianggap barat🙂

Namun untuk ditanah air, walaupun mereka menganggap kiblat sama dengan barat, mereka tidak serta merta membuka sajadah mereka tepat kearah barat. Yang jumpai selalu mengarahkan sajadah mereka kearah barat miring ke kanan (utara) sedikit. Tinggal sedikit banyaknya miringnya ini sesuai selera. Tapi yang jelas, meskipun mereka berkata kiblat adalah barat, program diotak mereka tentang kiblat adalah barat miring keutara sedikit. Dengan kata lain adalah barat laut. Bisa saja mereka berkata barat (saja) untuk hanya untuk memudahkan, atau mungkin juga kosakata barat laut tidak ada pada orang-orang terdahulu. Sehingga kiblat adalah barat laut menurut saya semua orang juga sudah tahu, walaupun mungkin dimulut mereka hanya berkata barat (saja).

Toleransi kesalahan.

MUI ingin membetulkan arah kiblat? Saya yakin 99,9999% tetap tidak akurat (tidak tepat mengarah ke Ka’bah). Sekali lagi saya tidak menafikan perbaikan. Daripada salah banyak, kan memang lebih baik salah sedikit. Tapi paling tidak, tidak usah sampai membongkar mimbar, atau mengganti keramik lantai gara-gara garis shof berubah. Kan mubazir sekali. Toh hasilnya juga tetap meleset.

Kalau kita berbicara tentang toleransi kesalahan yang diijinkan (jika ingin tepat mengarah ke Ka’bah), perhitungannya sbb:

Kita anggap saja lebar Ka’bah adalah 17 meter (pembulatan dari panjang diagonal kab’ah). Kita ambil dari ukuran terpanjang. Sehingga untuk radius 1 kilometer dari Ka’bah saja toleransi kesalahan yang diijinkan adalah:

Untuk radius 1 kilometer saja, jika arahnya salah lebih dari 1 derajat saja, maka arahnya sudah tidak tepat mengarah ke Ka’bah. Kemudian bagaimana untuk kita yang berada ditanah air yang jaraknya anggap saja 8500 km jauhnya dari Ka’bah. Bisa dibayangkan berapa derajat toleransi kesalahan yang diijinkan. Tentu sangat sangat sangat kecil sekali.

Sepersepuluhribu derajat kita tidak boleh salah jika ingin mengarah tepat ke Ka’bah. Tentu saja untuk bisa akurat akan sulit sekali (jika tidak ingin dikatakan tidak mungkin). Jika saja ingin mengubah target, bukan Ka’bah melainkan tanah haram Makkah misalnya, untuk memperbesar area toleransi, itupun tetap toleransi kesalahan dibawah 1 derajat. Tetap masih berat untuk akurat. Sedikit pergerakan kecil kita saja sudah bergeser hampir 5 derajat.

Jadi masih ingin berbicara tentang keakuratan?

Pendekatan arah kiblat.

Bagaimana agar paling tidak arah kiblat kita mendekati sempurna?

Cara paling umum adalah dengan menggunakan kompas kiblat. Bisa dibeli ditoko-toko terdekat. Disana sudah diberi keterangan untuk negara Indonesia arah kiblatnya ditunjukkan oleh angka tertentu. Namun tingkat kesalahannya juga masih cukup besar. Karena negara Indonesia yang seluas ini hanya ditunjukkan oleh satu nilai angka. Padahal sudah pasti arah kiblat di Sabang dan di Merauke berbeda jauh. Ini kalau kita sekali lagi ingin berbicara tentang keakuratan.

Cara paling mudah, mendekati akurat, namun harus menunggu waktu adalah dengan menggunakan bayangan matahari.  Untuk setiap daerah yang berada di zona edar matahari yaitu antara garis balik utara dan selatan (23,5LU-23,5LS), maka matahari akan pernah berada tepat diatas kepala suatu obyek.  Sehingga pada suatu masa matahari juga akan pernah berada tepat diatas Ka’bah. Ahli astronomi sepakat bahwa pada setiap tahun ada dua hari dimana matahari berada tepat di atas Ka’bah. Yaitu terjadi setiap tanggal 28 Mei pukul 9.18 GMT (16.18 WIB) dan 16 Juli jam 9.27 GMT (16.27 WIB) untuk tahun biasa. Sedang kalau tahun kabisat, tanggal tersebut dimajukan satu hari, dengan jam yang sama. Sehingga pada saat itu seluruh bayangan dimuka bumi akah mengarah/membelakangi Ka’bah. Dengan itu kita bisa tahu arah kiblat secara tepat (mendekati akurat). Permasalahannya hanya berada pada ketepatan waktunya saja, karena jam dirumah kita tentu saja belum tentu sama dengan jam universal. Untuk belahan dunia yang lain yang pada saat itu tidak disinari matahari, bisa menggunakan acuan antipoda (titik balik) Ka’bah. Sehingga bisa melihat bayangan pada tanggal 28 November 21.09 GMT (4.09 WIB) dan 16 Januari jam 21.29 GMT (4.29 WIB)

Cara yang lain adalah dengan menggunakan teknologi. Kita bisa memanfaatkan software Google Earth. Cara ini tidak kalah akurat dengan cara diatas. Dengan tools ruler kita proyeksikan tempat tinggal kita dengan Ka’bah. Kemudian dari garis hasil proyeksi tersebut kita cari titik yang dekat dengan tempat tinggal kita (mis: rumah tetangga) yang mengenai garis proyeksi tersebut. Itulah titik proyeksi Ka’bah terhadap tempat tinggal kita.

Proyeksi Ka'bah

Jadi untuk rumah saya, proyeksi Ka’bah adalah rumah tetangga diseberang  jalan rumah saya. Saya tinggal mengarahkan sajadah saya  kearah sana.

Bisa juga dengan menggunakan kompas navigasi. Dengan sebelumnya mengetahui terlebih dahulu beda derajat antara tempat tinggal anda dengan Ka’bah (nilai ‘heading’) dengan bantuan Google Earth seperti cara diatas. Nilai tersebut adalah nilai besar derajat terhadap utara bumi. Kemudian tinggal dibaca arah tersebut pada kompas navigasi.

Google Earth Ruler's Info

Namun perlu diketahui bahwa utara geometri berbeda dengan utara magnetik. Ada sedikit pergeseran. Sehingga  jika lagi-lagi ingin berbicara tentang keakuratan, cara ini masih sedikit kurang akurat dibanding dengan dua cara sebelumnya.

Epilog.

Kiblat menurut saya adalah simbolisme. Simbolisme keutuhan dan keseragaman umat Islam dalam beribadah menghadap ke satu titik, yaitu Baitullah Ka’bah. Jasad menghadap Ka’bah, namun hati menghadap kepada sang Khaliq. Asalkan niat kita menghadap ke kiblat (Ka’bah), dan kita sudah berusaha untuk mengarahkan kesana, itu sudah cukup. Yang lebih penting lagi adalah dalam beribadah kita bukan menyembah bangunan kubus nun jauh disana, tapi kita menghadap Sang Pencipta.

“Inni wajjahtu wajhia lillazi fataras sama wati wal ardha”

(sesungguhnya kuhadapkan mukaku, kepada yang menjadikan langit dan bumi)

Waallahu’alam bishowab

  1. July 22, 2010 at 3:56 pm

    bagus sekali analisamu, Mad. Kalo menurut ane, lebih baik kita berusaha memperbaiki kekhusyukan sholat kita daripada meributkan arah kiblat. Yg penting kt sudah berusaha menghadap kiblat.

    “Allah menghendaki kemudahan (dalam beragama) bagi kamu sekalian dan bukan kesulitan” (Al Qur’an)

    Ps:thanks dah mampir😉

  2. Olive
    July 22, 2011 at 9:30 pm

    It’s just awesome,guy! Thumbs up! Such terrific idea with analysis supported by theory and descriptions. May it bring goodness to all of us and Allah is just the Saving Grace of the Galaxy…^_^

  3. SAAD
    August 5, 2012 at 9:04 am

    Kalo mau akurat arah kiblat emg sngt2 sulit, krn jarak ribuan KM makah – indonesia. makanya dlm lafal niat sholat ada lafal MUSTAQBILAL QIBLAH

  4. December 19, 2012 at 10:46 am

    apik gan, wes tak coba’ suwun yaa

    • Chimot
      December 19, 2012 at 12:05 pm

      siipss…podo2 gan

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: