Hajj, The Greatest Journey

November 3, 2011 Leave a comment

Malam Wukuf

Dahulu kala, orang menempuh jarak puluhan ribu kilometer dengan segala macam cara menuju Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Berjalan kaki, mengendarai kuda dan unta, dan lain-lain. Perjalanan yang membutuhkan waktu bulanan bahkan hingga tahunan. Pengorbananan yang luar biasa. Pada masa kakek dan nenek kita, mereka berangkat haji dengan menggunakan jalur laut, mengarungi samudera Hindia terapung-apung diatas kapal selama berbulan-bulan. Apakah mereka bisa sampai dengan selamat hingga tempat tujuan? Mereka tidak pernah tahu. Bahkan mereka tidak akan pernah tahu, apakah mereka bisa kembali lagi kerumah mereka, menemui kembali keluarga tercinta yang mereka tinggalkan. Tidak ada alat komunikasi pada masa itu. Sehingga baik yang berangkat maupun keluarga yang ditinggalkan tidak akan pernah tahu bagaimana kondisi satu sama lain. Melihat banyaknya tantangan yang harus dihadapi dalam perjalanan, kehabisan bekal, perampok, bajak laut, badai, dan lain-lain, hampir tidak ada bedanya dengan pergi untuk berperang.

Read more…

Categories: Journey, Kisah, Renungan

Kiblat, antara simbolisme dan keakuratan

July 21, 2010 5 comments

Akhir-akhir ini berita yang satu ini marak sekali dibicarakan. Yaitu tentang fatwa MUI yang intinya menyatakan bahwa arah kiblat yang dianut oleh sebagian besar masyarakat Indonesia memerlukan pembetulan atau pergeseran arah agar lebih tepat mengarah ke Ka’bah (Baitullah). Saya sendiri kurang mengikuti detailnya seperti apa karena saya merasa tema ini sangat dibesar-besarkan (entah MUI/ulama-ulama sendiri yang membesar-besarkan atau pers saja yang membuat berita ini menjadi booming) yang membuat saya menjadi malas dan tidak tertarik untuk mengikutinya. Saya tidak menafikan orang yang ingin membuat perbaikan, saya setuju sekali adanya perbaikan, namun bagi saya untuk soal kiblat itu hanya merupakan simbolisme. Kita memang berusaha untuk tepat menghadap kiblat (Ka’bah), namun soal keakuratannya tidak usah dijadikan bahan perbincangan yang terlalu berlebihan. Mengapa demikian? Alasannya akan saya kemukakan melalui paparan dibawah ini. Namun sebelumnya saya ingin memperjelas bahwa ini semua adalah murni pendapat saya pribadi, dan saya memaparkan dengan pendekatan sains dan logika, secara saya orang yang tidak tinggi ilmu agamanya.

Read more…

Kombinasi Google Maps Mobile, Flash Unlimited, dan Kendaraan Pribadi

October 21, 2009 3 comments

Routing List

Selama ini belum pernah saya memaksimalkan software Google Maps yang saya install di handphone Nokia 6120 Classic saya. Software dengan platform Symbian 3rd edition yang sudah saya install lama ini paling hanya saya gunakan untuk mengetahui posisi saya sampai dimana ketika saya naik bis atau kereta api menuju kota yang belum familiar bagi saya. Fasilitas routing belum pernah tersentuh sama sekali bahkan.

Saya (dan teman) pernah menggunakan fasilitas routing di Google Maps, namun untuk Google Maps di komputer bukan handphone, ketika kami akan ber-backpacking ke Thailand, Malaysia dan Singapore. Itu juga sedikit ada gunanya, karena kami disana menggunakan angkutan umum, sehingga hasil routing yang kami print tersebut juga tidak berguna. Hanya kadang membantu untuk memperkirakan berapa jarak dari satu tempat ke tempat lain yang kami kunjungi. Atau membantu sebagai peta ketika kami bingung sedang berada dimana (dengan berharap lokasi kami pada saat itu ada dalam kumpulan peta hasil routing kami tersebut).

Barulah pada saat saya berlibur ke Bali pada libur lebaran 1430H ini, saya untuk pertama kali memaksimalkannya, dengan fungsi routing yang ada pada Google Maps tersebut.

Read more…

Bali e-Kios Tourism Machine Box

October 4, 2009 Leave a comment
Bali e-Tourist Machine Box

Bali e-Kios Tourism Machine Box

Atau apalah nama yang sebenarnya saya kurang tahu. Itu tadi istilah saya sendiri. Bali e-Kios Tourism Machine Box.

Saya menemukan mesin ini di obyek wisata Tanah Lot, Bali pada waktu saya dan keluarga kakak saya berlibur ke Bali pada liburan lebaran kali ini. Tidak sengaja juga sebenarnya menemukan mesin ini. Awalnya, sewaktu tiba dilahan parkir obyek wisata Tanah Lot ini, sambil menunggu ponakan-ponakan saya ganti baju (karena berangkat masih memakai baju tidur), saya iseng-iseng jalan-jalan disekitar lahan parkir. Saya berniat mencari tourist information, siapa tahu saja saja bisa meminta brosur atau peta wisata Bali. Tepat disamping tourist information, saya melihat ada semacam box ruangan, persis seperti box ruangan mesin ATM bank. Saya intip didalamnya ada mesin, juga seperti mesin ATM, namun bentuknya sedikit berbeda. Penasaran juga, mesin apa ini sebenarnya. Nama diluarnya :

FIND IT e-Kios

Read more…

ASHABUL KAHFI : Teori Relativitas Einstein dalam Al Quran (2)

October 2, 2009 33 comments

Bagian kedua

(sambungan)

Para Ashabul Kahfi hidup melintasi zaman. Mereka serasa tertidur satu hari didalam gua, namun zaman ternyata telah berganti selama 309 tahun (pendapat lain menyatakan 350 tahun).

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi).” (QS 18:25)

Bagaimana bisa?

Hal ini bisa dibuktikan dengan analisis melalui fisika modern, yaitu teori relativitas Einstein.

Jika suatu benda, makhluk hidup atau apa saja yang bergerak dengan kecepatan tertentu (mendekati kecepatan cahaya), maka benda tersebut akan mengalami dilatasi waktu dan kontraksi panjang.

Read more…

ASHABUL KAHFI : Teori Relativitas Einstein dalam Al Quran (1)

October 1, 2009 10 comments

Bagian pertama

Sebenarnya sudah sejak lama saya ingin menulis tentang ini, ketika saya teringat tentang artikel menarik yang pernah saya baca waktu zaman SMA dulu, yang membahas tentang hal ini. Namun karena ada perhitungan detil matematis yang saya kurang begitu ingat, maka keinginan menulis saya urungkan.

Kebetulan beberapa saat yang lalu, waktu saya bongkar-bongkar gudang dirumah saya saya menemukan lagi artikel ini tersimpan dalam tumpukan buku-buku lama, maka saya putuskan untuk segera saya tulis di blog ini. Sebelum artikel ini lenyap lagi.

Artikel ini terdapat dalam majalah bulanan SMA milik kakak saya (kebetulan SMA kakak saya dan saya sama yaitu SMA Negeri 2 Kediri), yang diterbitkan oleh OSIS untuk kalangan intern, yaitu DIOSSA (kependekan dari Dian OSIS Smada) edisi Juli 1996. Majalah ini sudah tidak beredar lagi 1-2 tahun kemudian.

Read more…

Flexible Camera Tripod

September 27, 2009 Leave a comment

Flexible Camera Tripod

Untuk kesekian kalinya lagi, kali ini saya dolan cuma berduet dengan Mantos. Kami berencana untuk mendaki Gunung Sindoro. Sebenarnya rencana awal adalah berenam. Tapi karena tiba-tiba anggota yang lain ada kesibukan masing-masing dan kemudian mengundurkan diri, maka jadilah kami mendaki cuma berdua. Bagi saya dan Mantos tidak ada masalah mendaki gunung hanya berdua saja, karena kami sudah biasa melakukannya. Tapi tetap saja ada tidak enaknya. Salah satunya adalah permasalahan potret memotret dengan kamera. Dan ini adalah permasalahan klasik kami. Seperti halnya pendakian gunung Arjuno, Madura tour, dll. Karena cuma berdua, maka jika ada yang ingin di-potret (foto) maka dia akan foto sendiri-sendiri terus. Dan bagi saya dan Mantos hal itu terasa tidak nyaman. Berbeda jika pergi minimal bertiga. Jika ada yang difoto maka akan foto berdua.  Ditambah lagi, tentu saja pada momen-momen tertentu ingin berfoto bersama secara full team. Sebut saja di puncak gunung. Tidak enak rasanya jika foto sendirian.

Solusinya sudah barang tentu adalah tripod.

Dan berbeda dari jaman dulu, kali kami punya teman yang memiliki tripod, sehingga jika kami ingin meminjamnya kami dapat dengan mudah melakukannya. Namun walaupun demikian, tripod yang dimiliki teman kami tersebut adalah tripod ukuran standard dengan panjang terlipat sekitar 1 meter dengan berat kurang lebih 1 kilogram, sehingga faktor ukuran dan berat tersebut menjadi masalah yang lain. Kami cuma berdua dan mengangkat backpack yang sudah penuh dengan logistik pendakian. Wah, jika harus ditambah lagi dengan tripod, selain akan memakan tempat, juga bakal ribet. Akhirnya kami putuskan untuk memakai cara lama saja. Jika ingin berfoto bersama maka akan mencari ganjel (penyangga) baik itu batu, tas, atau apa saja yang bisa dijadikan penyangga. Atau bisa juga dengan memegang kamera dengan menjulurkan tangan dan memoto diri sendiri dan teman yang ada disampingnya. Hasilnya ya tentu saja kurang memuaskan, tapi lumayan lah daripada tidak ada foto bersama.

Ohya,  soal ganjel mengganjel, kamera digital saya Casio Exilim EX-Z75 yang memiliki body sangat ramping benar-benar hampir dikatakan tidak bisa berdiri diatas media yang sedikit saja tidak rata. Sehingga untuk urusan ini saya serahkan kepada kamera teman saya Mantos, Sony DSC-S730 yang body-nya lebih lebar, sehingga bisa sedikit diatur untuk berdiri sedikit menunduk atau mendongak.

Tapi semua itu akan menjadi masa lalu. Saat browsing-browsing di Deal Extreme saya menemukan produk ini. Flexible Camera Tripod. Mantab, benar-benar useful. Sebenarnya saya pernah membaca disebuah majalah (saya lupa majalah apa) bagaimana membuat tripod mini yang fleksibel seperti ini. Saya benar-benar tertarik untuk memilikinya. Tapi untuk membuatnya sendiri, pikir dua kali. Karena selain harus mencari kawat yang tepat sehingga tidak terlalu keras dan juga tidak terlalu lentur, juga harus mencari baut screw nya. Sedikit ribet juga. Tidak menyangka kalau ternyata ada yang jual siap pakai.

Lihat saja, dengan flexible camera tripod ini, kamera saya yang slim bisa nangkring dimana saja. Diatas batu oke. Diatas tas oke. Didahan pohon oke. Diatas tanah langsung oke. Posisi jungkir balik juga oke. Posisi kamera mau menunduk mau mendongak bisa diatur sesuka hati. Ukurannya sangat kecil dan ringan. Bisa dibawa kemana saja. Benar-benar sangat berguna. Harga juga sangat terjangkau. Masuk akal lah di dompet. Harga cuma 50 ribu rupiah. Daripada beli tripod mini bisa, kalau saya lebih menyukai ini. Ya karena ke-fleksibel-annya tadi. Selain harga yang jauh lebih murah. Hanya saja kekurangannya dibanding tripod mini biasa adalah kemampuan menahan beratnya. Berat maksimum yang bisa ditahan sekitar seperempat kilo.  Jadi ya cuma bisa untuk menahan kamera pocket biasa. Kalau kamera SLR berlensa berat atau Camcoder (handycam) tipe lama yang berat ya langsung letoy deh🙂.

Soal belanja di Deal Extreme, saya benar-benar menyukainya. Menyesal tidak tahu situs ini sejak lama. Mengapa saya menyukainya? Pertama, karena free shipping, alias bebas bea kirim. Mereka mengirimnya dengan airparcel mail, sehingga bea kirim bisa ditekan. Atau sebenarnya menurut saya, bea kirim sudah mereka bebankan pada harga jualnya. Tapi walaupun demikian, dan ini merupakan alasan kedua saya menyukainya, adalah harga jual produk-produk mereka yang sangat murah. Bahkan saya menjumpai harga jual produk mereka lebih murah daripada harga pasaran ditoko yang saya jumpai langsung. Alasan ketiga, saya bisa puas melihat-lihat barang yang dijual disini. Semua serba-serbinya, tinggal browse saja. Kalau ditoko kan kita harus tahu barang sebelum kita membelinya. Saya menemukan barang-barang unik yang selama ini saya idam-idamkan dan tidak tahu harus membeli dimana akhirnya ketemu disini. Dan lihatlah, wish list (daftar barang yang ingin dibeli) saya sangat banyak. Tapi karena saya pintar untuk me-manage antara keinginan dan kebutuhan maka saya bisa menahan keinginan membeli saya yang menggelora tersebut🙂 Saya akan membeli pada saat yang tepat.

Namun bedanya dengan membeli langsung ditoko dengan membeli secara import ini, ya kita harus sabar menunggu barang datang. Apalagi dikirim via airpost mail, sehingga tidak bisa untuk barang yang dibutuhkan secara mendesak. Untuk pengiriman ke Indonesia paling cepat satu minggu. Itupun untuk kota-kota besar. Sehingga untuk yang berada didaerah ya harus lebih sabar lagi.

Ohya ketika menerima kiriman barang pesanan, kita akan dikenakan biaya Rp.3.000 (tiga ribu rupiah) dari kantor pos. Biaya tersebut adalah bea masuk. Tapi kadang saya juga dikenakan biaya tambahan Rp.4.000 (empat ribu rupiah) untuk bea cukai. Saya tidak tahu kapan barang tersebut dikenakan cukai kapan tidak. Tapi karena ‘cuma’ empat ribu rupiah ya saya ikhlaskan saja.